fajarnews

Krisis Air Bersih Mulai Mengancam Warga Majalengka

Redaksi : Andriyana | Jumat, 8 September 2017 | 16:18 WIB

ABR
Akibat musim kemarau yang berkepanjangan banyak mata air dan sungai di wilayah Majalengka yang mulai mengering

Fajarnews.com, MAJALENGKA - Musim kemarau berkepanjangan di wilayah Kabupaten Majalengka menyebabkan banyak sumber mata air mengalami penurunan volume, bahkan sebagian mulai mengering. Kondisi ini berakibat pada mulai krisisnya ketersediaan air bersih.

Menurut Hotib, warga Desa Gunung Larang Kecamatan Bantarujeg, akibat kemarau yang sudah berlangsung selama berbulan-bulan, warga di daerahnya mulai kesulitan air bersih. Pasalnya mata air yang selama ini menjadi sumber penyedia air bersih, debitnya terus berkurang.

Diperlukan waktu yang cukup lama hanya untuk mendapatkan satu timba air bersih. “Memang belum kering, tetapi airnya terus mengecil, dan bila hujan tidak kunjung turun bukan tidak mungkin mata air tidak lagi mengeluarkan air,” ungkapanya, Kamis (7/9).

Hal yang sama dikatakan Oman, warga  Cinangka  Kecamatan  Maja. Dia mengatakan, untuk memenuhi kebutuhan iar bersih,warga mengandalkan pada sumber mata air yang ada di daerahnya.

Namun belakangan sumber mata air tersebut  air terus menipis. Hal itu diakibatkan oleh musim kemarau yang sudah  berlangsug selama berbulan-bulan.

“Kebutuhan air bersih warga selama ini mengandalkan dari mata air itu, dan saat ini ketersediaan airnya terus menyusut,” katanya.

Ditempat terpisah Ketua LSM Bina Alam Dadi Mulyana menyebutkan, penyusutan debit sumber mata air  merupakan dampak dari kemarau panjang yang masih terus terjadi di semua kawasan, termasuk  Kabupaten Majalengka.

“Menurunnya debit mata air di sumber mata air merupakan dampak musim kemarau,dan itu merupakan hal yang biasa terjadi,” katanya.

Meski demikian kata dia, tetap perlu diwaspadai bahwasanya penyusunan mata air menjadi lebih cepat bila  dibandingkan kemarau sebelumnya.

”Kalau itu yang terjadi maka selai kemarau itu merupakan efek dari rusaknya lingkungan  sekitar sumber mata air, misalnya karena berkurangnya tanaman di kawasan sumber mata air,” jelasnya.

Karena itu ia mengingatkan kepada warga di sekitar kawasan sumber mata air untuk menjaga kelestraian kawasan sumber mata air. ”Semakin hijau kawasan maka ketersediaan air akan semakin banyak,”ujarnya.

Selain mata air, penurunan debit air juga terjadi aliran sungai di wilayah Kota Angin, seperti terlihat pada aliran sungai Cijuray. Sungai yang airnya banyak dipergunakan untuk mengairi sawah itu nyaris tidak menyisakan air lagi. Saat ini, yang terlihat hanya hamparan batu berbagai ukuran disepanjang aliran sungai. (ABR)

Loading Komentar....
loading...