fajarnews

KSOP: Kami Sudah Capek Tegur Pengusaha Batu Bara

Redaksi : Fatianto Fadhillah | Kamis, 31 Agustus 2017 | 09:40 WIB

WILDAN IW
Aktivitas bongkar muat batu bara di Pelabuhan Cirebon.

Fajarnews.com, CIREBON- Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas II Cirebon selaku penanggung jawab pelabuhan mengklaim, sudah menjalankan standart operational procedure (SOP) secara maksimal terkait upaya meminimalisir debu batu bara, yang saat ini kembali dikeluhkan warga sekitar, termasuk memberikan teguran kepada PT Pelindo II Cirebon dan para pengusaha bongkar muat batu bara.

Namun, semua teguran tersebut seakan tidak dihiraukan sehingga debu batu bara tetap menghinggapi permukiman warga dan lagi-lagi KSOP yang menjadi kambing hitam.

Hal itu dikemukakan Kepala Seksi Lalu Lintas Angkutan Laut dan Usaha Pelabuhan KSOP Kelas II Cirebon, Viva Indriyani Ayu, menanggapi protes warga sekitar Pelabuhan Cirebon dan Sekolah Santa Maria terkait debu batu bara.

"Kita selama ini sudah berupaya maksimal mulai dari pengawasan dan lain-lain, sampai saya sendiri capek ngomong terus sama para pengusaha, tapi bukti di lapangannya tidak ada sedangkan masyarakat tahunya ya KSOP," kata Viva, Rabu (30/8).

Dengan alat-alat yang ada, termasuk empat mesin semprot debu yang beroperasi di wilayah pelabuhan, menurut Viva, KSOP tidak pernah berhenti melakukan penanganan-penanganan sesuai dengan tupoksinya di pelabuhan, walaupun terkadang ada hal teknis di lapangan yang tidak seharusnya dilakukan KSOP karena tidak menjadi tugasnya.

"Kita itu setiap hari muter terus, waktu kita kontrol memang selalu beres, tapi terakhir saya kontrol dengan GM Pelindo, saya katakan KSOP minta agar Pelindo serius," lanjut Viva.

Ia mengatakan, terlepas dari upaya-upaya yang sudah dilakukan oleh KSOP, hingga saat ini, keseriusan Pelindo dan para pengusaha memang belum terlihat. Salah satu contohnya, lanjut Viva, janji KSOP yang akan menyewa mobil penyedot debu (street weaper) untuk menangani debu batu bara, hingga saat ini alat tersebut belum terlihat beroperasi.

Selain itu, ketidakseriusan PT Pelindo dalam menangani debu juga terlihat dari tidak berjalannya sistem penghalang berupa jaring yang mengitari wilayah pelabuhan. Seharusnya, menurut Viva, jaring tersebut tetap basah agar debu benar-benar menempel dan jatuh bersama air yang merambat di badan jaring.

Akan tetapi, yang terjadi di lapangan, semua jaring yang terpasang dalam kondisi kering, bahkan sudah berwarna hitam tanda debu batu bara sudah melekat kuat di jaring tersebut. Sehingga, wajar saja jika jaring tertiup angin debu akan terbang berhamburan ke luar dan sampai ke permukiman warga.

"Jaring memang terpasang, kita sudah sering katakan kepada Pelindo agar jaring itu harus selalu basah, sekarang kan bisa lihat sendiri, jaringnya kering dan kalau sudah kering kena angin debunya pasti terbang," kata Viva.

Terpisah, Manajer Operasional PT Pelindo II Pelabuhan Cirebon, Yossianus Marciano mengklaim, menganggapi keluhan warga, pihaknya secara sigap melakukan pembenahan, mulai dari semakin intensnya penyemprotan jalan yang dilewati truk pengangkut batu bara, sampai dengan menambah personel penyemprotan jalur tersebut.

Pria yang akrab disapa Yosi itu menuturkan,, setelah adanya keluhan masyarakat terkait debu, pihaknya, bersama asosiasi pengusaha dan angkutan khusus pelabuhan bergotong royong melakukan penyiraman jalur yang dilewati truk batu bara, agar seminim mungkin debu tidak beterbangan.

"Sejak musim angin penanganan debu batu bara kita tingkatkan, apalagi dengan adanya pengaduan masyarakat dan keluhan masyarakat, kita respon dengan positif," kaya Yosi.

Ia mengaku sudah melakukan komunikasi dengan KSOP dan pihak maritim lainnya untuk bersama-sama melakukan penanganan hal tersebut. Tindakan yang nyata, lanjutnya, berupa penyiraman dengan menggunakan steam dan dilakukan berkali-kali dalam sehari. Selain itu, Pelindo pun melakukan pengawasan setiap jam dengan jadwal piket bergilir.

"Kita juga melakukan perbaikan jalan, kita juga sedang mengupayakan pengadaan alat mobil penyedot debu," ungkapnya.

Ketika disinggung apakah ada pemasangan alat pendeteksi udara, Yosi menjelaskan, saat ini memang sudah menggunalan alat tersebut, tetapi bukan yang elektronik, melainkan alat berupa pipa yang diberi air, sehingga dengan alat tersebut, dapat diketahui itu debu batu bara atau bukan.

"Kalau alat yang elektronik itu kan sangat canggih tuh, itu belum kami upayakan, cuma saat ini masih dengan sederhana seperti yang terpasang di perusahaan-perusahan seperti perusahaan semen," tandasnya. (MH Hidayat)

Loading Komentar....
loading...