fajarnews

Petani Kandanghaur Menjerit, Modal Tanam Hutang di Bank, Hasil Panen Malah Anjlok

Redaksi : Iwan Surya Permana | Senin, 21 Agustus 2017 | 07:45 WIB

-
-

  

Fajarnews.com, INDRAMAYU- Penurunan hasil panen di tingkat petani yang disebabkan serangan wabah 'wereng' dan virus 'tungo' (klowor) dimana berimbas terhadap produksi padi petani membuat para petani mengalami kerugian besar.

Di Kecamatan Kandanghaur misalnya, area petanian nyaris tidak bisa dipanen karena adanya fenomena meningkatkatnya intensitas serangan hama wereng.

Tidak hanya membuat petani mengalami kerugian besar, bahkan mereka pun harus banting setir untuk menutupi piutang dengan beralih profesi.

“Para petani di Kandanghaur ini hampir semuanya tidak bisa memanen padinya, karena sawah mereka rusak terserang wabah penyakit,” ujar Karmin, salah satu petani Kandanghaur, Minggu (20/8).

Padahal, kata Karmin, para petani tidak sedikit mengeluarkan modal untuk  biaya produksi, bahkan tidak sedikit para petani harus berhutang kepada bank untuk bisa menggarap sawahnya.

“Sekarang dengan kondisi ini, 1 hektare biasanya petani mampu menghasilkan padi 6 sampai 7 ton, sekarang hanya mendapatkan tiga karung padi dan itu pun sangat jauh jika dikalkulasikan dengan biaya produksi,” ungkapnya.

Pihaknya hanya petani garap yang harus membayar dua kali lipat, mengingat  panen tersebut anjlok. “Mau bagaimana lagi Mas, orang kondisinya seperti ini,” tuturnya.

Dia mengakui, kejadian seperti ini (gagal panen,-red) kerap menimpa para petani di Kandanghaur selain daerah tersebut merupakan daerah tadah hujan, program percepatan tanan yang digaungkan oleh pemerintah pun sampai sekarang masih belum terealisasi.

Senada diungkapkan, Dana (39). Pihaknya harus banting setir dengan beralih profesi menjadi kuli serabutan dan nelayan musiman untuk mncukupi kebutuhan rumah tangganya, mengingat gagal panen.

“Biaya sudah habis besar, tetapi hasilnya tidak ada, petani kelimpungan ditambah lagi biaya tanam hasil hutang,” ungkapnya.

Sementara itu ketika ditanya mengenai asuransi pertanian, ia mengatakan sampai saat ini belum mengetahui adanya program asuransi pertanian tersebut, pasalnya tidak ada sosialisasi tentang program tersebut.

“Kalau dipikir-pikir mah memang sedikit membantu, tapi pihak desanya saja diam,” tandasnya. (Agus Sugianto)

 

 

Loading Komentar....
loading...