fajarnews

Keluarga TKW Indramayu Kecewa, KBRI Suriah Tak Bisa Pulangkan Ruminah

Redaksi : Iwan Surya Permana | Rabu, 16 Agustus 2017 | 07:45 WIB

Agus Sugianto
Waryono, suami Ruminah (TKW yang jadi korban trafficking di Suriah) didampingi dua anaknya meminta pemerintah agar segera memulangkan Ruminah.*

 

Fajarnews.com, INDRAMAYU- Keluarga TKW Indramayu, Ruminah (43) asal Desa Jengkok, Kecamatan Kertasmaya Kabupaten Indramayu menyesalkan sikap pihak KBRI Suriah di Damascus yang kurang tanggap dalam menangani permasalahan TKI korban tindak pidana perdagangan orang (human trafficking).

"Sampai saat ini, kami keluarga belum mendapatkan kabar kapan Ruminah akan dipulangkan, baik dari pihak KBRI maupun dari pihak Kemlu," ungkap Waryono (45) suami Ruminah kepada fajarnews.com, Selasa (15/8).

Padahal, kata Waryono, istrinya adalah korban trafficking, d jual oleh mafia perdagangan orang ke sejumlah negara di Timur Tengah dan terakhir dipekerjakan di Negara Suriah.

"Sampai saat ini nasibnya masih dalam tekanan, Diperlakuan tidak manusiawi oleh majikan maupun pihak agency di Suriah," katanya.

Diakui Waryono, setiap kali istrinya memberikan kabar melalui SMS, ia mengeluh dan sudah tidak tahan lagi untuk bekerja, terlebih ketika setiap kali meminta gaji kepada majikannya kerap mendapat cacian, sedangkan kerja selalu diporsir dan hanya diberi makan 1 kali, itu pun makanan sisa majikannya. Bahkan istrinya kerap mengeluhkan sakit perut.

Atas kondisi tersebut, kata Waryono, pihaknya atas nama keluarga meminta kepada pemerintah dalam hal ini KBRI Suriah dan Kementerian Luar Negeri agar istrinya segera dipulangkan dan dapat kembali berkumpul bersama kedua anaknya yang bernama Aris Subagja (17) dan Siti Amaliah (9). 

Sementara itu, Ketua SBMI Indramayu, Juwarih, selaku penerima kuasa pada saat dikonfirmasi terkait usaha yang sudah dilakukan oleh pihaknya, SBMI sudah melayangkan surat pengaduan ke KBRI Suriah, Direktorat Perlindungan WNI dan BHI Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia.

Namun jawaban yang diterima dari KBRI Suriah, KBRI Suriah tidak bisa memulangkan TKI yang belum menyelesaikan masa kontraknya minimal 2 tahun dikarenakan pihak Imigrasi Suriah tidak mau memberi exit permit kecuali atas izin majikan kecuali majikan mendapatkan ganti rugi sekitar $ 9.000.

“Terus dari mana uang sejumlah itu? Apa mau Pemerintah Indonesia membayar ganti rugi majikan?" kata Juwarih menirukan bunyi pesan pendek yang ia terima dari WhatsApp Call Center KBRI Damascus.

"Artinya dari jawaban yang diberikan oleh pihak KBRI Suriah yang di Damascus, mengabaikan kewajibannya untuk memberikan perlindungan terhadap WNI serta membiarkan keselamatan korban, padahal di dalam UU No.  21 Tahun 2007 tentang TPPO sudah diatur mengenai biaya kepulangan," sesal Juwarih.

Dikatakan Juwarih, berdasarkan bunyi Pasal 54 Ayat 1 Undang Undang No  21 Tahun 2007 tentang pemberantasan tindak pidana perdagangan orang.

"Dalam hal korban berada di luar negeri memerlukan perlindungan hukum akibat tindak pidana perdagangan orang, maka Pemerintah Republik Indonesia melalui perwakilannya di luar negeri wajib melindungi pribadi dan kepentingan korban, dan mengusahakan untuk memulangkan korban ke Indonesia atas biaya negara," jelasnya. (Agus Sugianto)

Loading Komentar....
loading...