fajarnews

Sopir Angkot Hadang Taksi Online di Jalan Cipto

Redaksi : Iwan Surya Permana | Rabu, 9 Agustus 2017 | 07:15 WIB

 

Fajarnews.com, CIREBON- Belasan orang yang diduga sopir angkot melakukan penghadangan terhadap salah satu mobil angkutan online yang tengah beroperasi di depan sebuah pusat perbelanjaan di Jalan Cipto Mangunkusumo, Kota Cirebon, Selasa (8/8) sore. 

Dalam aksi yang sempat direkam warga dan beredar luas melalui aplikasi WhatsApp itu terlihat, massa menghadang beberapa mobil berplat nomor hitam, yang diduga digunakan sebagai angkutan transportasi taksi online.

"Kejadiannya tadi sekitar pukul 17.10 WIB," kata Uyi, warga yang merekam peristiwa itu kepada fajarnews.com.

?Terlihat dalam video tersebut, massa yang emosional menggebrak-gebrak mobil tipe city car berwarna merah. Mereka geram karena Pemerintah Kota Cirebon melalui Dinas Perhubungan telah melarang taksi online beroperasi sejak 26 Mei lalu, karena persoalan perizinan yang belum diselesaikan.

Aksi gebrak mobil tersebut sempat mendapat perlawanan dari sopir taksi online yang diketahui bernama Leo. Beruntung, peristiwa itu tidak berlanjut karena dilerai petugas keamanan pusat perbelanjaan. Massa akhirnya membubarkan diri setelah angkutan online itu pergi meninggalkan lokasi.

Namun sekitar 15 menit kemudian, taksi online yang sempat mendapat penghadangan itu kembali ke lokasi awal bersama belasan ojek online.

Dari pantauan fajarnews.com kumpulan pengemudi taksi dan ojek online di depan pusat perbelanjaan itu sempat mengganggu arus lalu lintas. Mereka baru bubar setelah satu unit mobil sedan patroli datang sekitar pukul 18.00 WIB.

Sebelumnya ?pengemudi angkot dan taksi konvensional berencana melakukan aksi mogok dan sweeping, Senin 7 Agustus yang lalu. Namun aksi tersebut berhasil dicegah hingga akhirnya diadakan pertemuan dadakan antara sopir, Dishub, Polisi, dan Organda.

Dalam pertemuan tersebut para sopir yang diwakili Sekretaris Organda Cirebon Karsono berharap aparat bisa tegas setelah adanya larangan operasional taksi online di Kota Cirebon sejak 26 Mei 2017 lalu.

"Hari ini saya bisa menahan teman-teman untuk lakukan aksi. Tapi saya tidak yakin bisa terus menahan sampai kapan karena banyak teman-teman sopir yang bergerak sendiri (untuk aksi)," ungkap Karsono.

Karsono menilai, persaingan yang tidak sehat antara angkutan konvensional dan online merupakan pemicu kemarahan awak angkutan konvensional. Menurut Karsono, meski telah beroprasi di Kota Cirebon, namun angkutan online tersebut, hingga kini belum mengantongi perizinan yang disyaratkan dalam Permenhub Nomor 26/2017, Permendagri 28/2017, dan Undang-Undang Nomor 22/2009.

"Ini masalah perut, jadi wajar jika terjadi kegaduhan. Saya tantang angkutan online tersebut apakah mereka sudah mengantongi perizinan seperti yang diamanatkan Permenhub Nomor 26/2017. Padahal, Dishub sudah melarang beroperasi, tapi mereka terus beroperasi dan malah semakin berkembang,” kata Karsono.

Terkait aspirasi yang dilayangkan Organda dan koodinator jalur angkutan umum kepada Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Cirebon yang isinya mengenai operasional transportasi online, pihak Dishub sudah menindaklanjuti aspirasi tersebut.

Hal itu dikatakan Sekertaris Dinas Perhubungan Kota Cirebon, Ujianto saat ditemui seusai pertemuan dengan Organda dan koordinator jalur angkutan umum di ruangan Kepala Dishub, Selasa (8/8).

Bentuk tindak lanjut tersebut, kata Uji, yakni dengan melayangkan surat kedua larangan pengoperasian transportasi online sebelum memiliki izin yang resmi dari pemerintah.

"Alhamdulillah, kami, Dishub sudah menindak lanjuti, terkait aspirasi itu," ungkapnya. (Hasan Hidayat)

Loading Komentar....
loading...