fajarnews

Panen Raya, Harga Gabah Petani Dibeli di Atas HPP

Redaksi : Iwan Surya Permana | Selasa, 1 Agustus 2017 | 10:15 WIB

Agus Sugianto
Panen raya Masyarakat Peduli Pangan (Mapan) bersama organisasi petani lainnya seperti Mari Sejahterakan Petani (MSP) di Desa Pegagan, Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu.*

 

Fajarnews.com, INDRAMAYU- Meski produksi padi di Kabupaten Indramayu mengalami penurunan akibat terserang hama wereng dan virus tuglo (klowor), gabah para petani masih dibeli dengan harga yang cukup tinggi yakni di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP).

Kondisi itu terjadi pada saat panen raya Masyarakat Peduli Pangan (Mapan) bersama organisasi petani lainnya seperti Mari Sejahterakan Petani (MSP) dengan hamparan sawah seluas 4.000 hektare  yang berlangsung di Desa Pegagan, Kecamatan Losarang. 

"Harga gabah lumayan tinggi, mudah-mudahan petani untung. Biasa, begitu ada penen para pembeli itu berdatangan ke lokasi, mereka para pedagang beras. Rata rata Rp 4.200,00 sampai Rp 4.800,00 per kilogram gabah kering panen. Dan itu di atas HPP," kata Ketua Mapan Indramayu, Sutrisno, Senin (31/7).

Dia mengatakan, gabah yang dipanen ini dan semua gabah yang dihasilkan petani di Indramayu dibeli dengan harga yang cukup tinggi yakni di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP), dibeli oleh semua pelaku usaha atau pengepul.

Adapun produktivitas padi yang panen ini mencapai 6 hingga 7 ton per hektare, di antaranya varietas Mekongga dan Ciherang. Varietas yang banyak diminati petani pun dipanen, seperti MSP 02 dan 13 serta varietas lokal lainnya. 

"Dalam acara tersebut kami juga mengundang banyak kalangan untuk hadir, baik anggota dewan, para pemerhati petani, bukan semata-mata untuk menyaksikan kegiatan saja, tetapi juga lebih penting dari itu adalah kita mendiskusikan berbagai persoalan yang dihadapi oleh para petani, khususnya petani Indramayu," ungkapnya.

Menurutnya, persoalan petani di Kabupaten Indramayu ini harusnya dicarikan solusi, karenanya dia berharap kordinasi antara kelompok-kelompok organisasi petani dengan pemerintah dapat sinkron untuk bersama-sama memecahkan problem-problem tersebut.

Dia mencontohkan, saat ini petani sedang menghadapi masalah hama. Dan masalah lain seperti yang dihadapi oleh petani Losarang, yang sebagian besar sawahnya adalah tadah hujan. 

"Masalah yang pelik saat ini, lahan tadah hujan tentu saja butuh hujan, tetapi jika hujan berkepanjangan bisa terjadi banjir dan menggenangi areal sawah, petani terncam gagal panen. Sebaliknya musim kemarau berkepanjangan sawah-sawah pada kering, sudah pasti mengurangi kapasitas produksi. Pemerintah perlu mencarikan solusi terhadap masalah ini," pungkas Sutrisno. (Agus Sugianto)

Loading Komentar....
loading...