fajarnews

Kompor Meledak di Tengah Laut, Nelayan Indramayu Alami Luka Bakar Serius

Redaksi : Iwan Surya Permana | Jumat, 28 Juli 2017 | 09:55 WIB

Agus Sugianto
Dana Wardana, nelayan asal Indramayu yang menderita luka bakar sekujur tubuh akibat ledakan kompor di atas laut.*

 

Fajarnews.com, INDRAMAYU- Seorang nelayan warga Blok  Cemara Tengah, Desa Cemara Kulon, Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu, Dana Wardana (24), mendapat luka bakar yang cukup serius di sekujur tubuh, akibat terkena ledakan kompor gas, pada saat sedang melaut.

Informasi yang berhasil dihimpun fajarnews.com menyebutkan, peristiwa nahas tersebut bermula saat Dana bersama dua orang rekannya, tarik jangkar berlayar menuju Jakarta menggunakan kapal ukuran sedang, Sabtu (22/7) lalu. Saat tiba di perairan Bekasi beberapa hari kemudian, alat masak yang tengah digunakan Dana meledak.

Nahas, ledakan itu mengenai sekujur tubuh serta mukanya. Akibat ledakan itu, Dana pun terlempar hingga jatuh ke laut. Beruntung kejadian itu tidak menyebabkan kapal yang mereka tumpangi terbakar, karena api bisa segera dikendalikan.

Sementara itu, mengetahui Dana terjebur ke laut, seorang rekannya langsung melakukan penyelamatan. Selanjutnya Dana berikut kapal dievakausi ke Muara Cilincing.

Ketua DPC Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Indramayu, Dedi Aryanto, menuturkan, pihaknya mendapat informasi adanya tiga nelayan Indramayu yang mengalami musibah di perairan Tanjung Bendera, Bekasi.

"Alhamdulilah para korban berhasil diselamatkan termasuk korban yang mengalami luka bakar di sekujur badannya. Korban bahkan sudah dibawa ke rumahnya di Indramayu, kemarin," kata Dedi, Kamis (27/7).

Menurut Dedi, saat ini banyak nelayan Indramayu yang mengadu nasib ke perairan Jakarta, karena ikan di perairan Indramayu sulit didapat.

“Maksudnya ingin menyambung hidup keluarga, namun nahas di tengah perjalanan kompor yang digunakan meledak. Beruntung tidak sampai ada korban jiwa,” ujarnya.

Dedi mengaku prihatin dengan adanya musibah yang menimpa nelayan kecil tersebut. Terlebih, korban yang hanya merupakan anak buah kapal (ABK) belum memiliki asuransi nelayan, sehingga belum bisa dilakukan pengobatan secara intensif.

"Karena asuransi yang diprogramkan KKP hingga saat ini belum seluruhnya bisa meng-cover nelayan kecil," pungkasnya. (Agus Sugianto)

Loading Komentar....
loading...