fajarnews

Sudah Sebulan Ribuan Nelayan Indramayu Tak Bisa Melaut

Redaksi : Iwan Surya Permana | Rabu, 26 Juli 2017 | 07:45 WIB

Agus Sugianto
Perahu-perahu nelayan terpaksa dipinggirkan di tepi pantai menyusul tingginya gelombang laut dan kencangnya tiupan angin.*

 

Fajarnews.com, INDRAMAYU- Ribuan nelayan tradisional Kabupaten Indramayu terpaksa menganggur menyusul tingginya gelombang laut dan kencangnya tiupan angin. Sudah hampir sebulan ini mereka menyandarkan perahunya.

Ketua DPC Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Indramayu, Dedi Aryanto mengatakan, saat ini ada sekitar 10 ribu nelayan tradisional Kabupaten Indramayu yang kini menganggur.

Mereka adalah nelayan yang biasa mengunakan perahu kurang dari lima gross ton (GT).

"Ada lebih dari 2.000 perahu berukuran kurang dari lima GT yang kini tak melaut, kondisi ini terjadi sejak lebaran sampai sekarang," ungkapnya, Selasa (25/7).

Dedi mengatakan, hal itu disebabkan karena angin kencang dan gelombang tinggi di laut. Menurutnya, kondisi tersebut membuat perahu kecil rawan mengalami kecelakaan sehingga mengancam keselamatan nelayan.

"Saat musim angin timur seperti ini, nelayan tradisional biasanya mengalami paceklik, pasalnya penangkapan ikan menjadi sulit akibat jaring yang ditebar kerap terbawa angina," jelasnya.

Untuk memperoleh hasil tangkapan, lanjut Dedi, para nelayan harus mencari ikan di area tangkapan yang lebih jauh dan mengeluarkan modal yang lebih besar. Namun, hasil yang diperoleh seringkali tidak bisa menutupi modal yang telah dikeluarkan.

Dedi menyebutkan, untuk kapal kecil berukuran kurang dari 5 GT, modal yang dikeluarkan untuk sekali melaut berkisar antara Rp 200 ribu–Rp 600 ribu. Sedangkan saat ini, hasil tangkapan yang diperoleh hanya berkisar Rp 300 ribu–Rp 500 ribu.

"Karena hasil yang didapat gak menutup buat biaya (modal), akhirnya banyak yang memilih istirahat (tidak melaut)," ungkapnya.

Dedi pun menambahkan, untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari para nelayan ini terpaksa banting setir menjalani pekerjaan lain.

Di antaranya menjadi buruh tani maupun kuli bangunan. Bahkan, adapula yang tak bekerja apapun dan menggantungkan kebutuhan ekonomi keluarganya dari berutang ke warung.

Hal itu seperti yang dialami salah seorang nelayan di Kecamatan Juntinyuat, Kabupaten Indramayu, Darim. Dia mengatakan, sejak gelombang tinggi terjadi, dia secara otomatis tak bisa lagi mencari ikan. Akibatnya, tidak ada pemasukan untuk membuat asap dapur tetap mengebul.

Dalam kondisi normal, Darim mengaku biasa melaut untuk mencari ikan teri. Dengan perahu jenis sope, ikan teri yang diperolehnya kurang lebih lima kilogram per hari. Setelah dipotong kebutuhan perbekalan melaut, uang yang bisa dibawa pulang sekitar Rp 30 ribu–Rp 40 ribu per hari. "Tapi sekarang " boro-boro ", sepeser pun tidak ada karena saya tak bisa lagi melaut," pungkasnya.

agussugianto@fajar-cirebon.com

Loading Komentar....
loading...