fajarnews

Ang Iing: Program Desa Ekonomi Jalan Majukan Kabupaten Cirebon

Redaksi : Iwan Surya Permana | Rabu, 19 Juli 2017 | 09:45 WIB

Suhanan
Bakal Calon Bupati Cirebon dari Partai Gerindra, Nasihin Masha saat blusukan ke petani garam di Kandawaru.*

 

Fajarnews.com, CIREBON- Salah satu Bakal Calon Bupati (Bacabup) Cirebon dari Partai Gerindra, Nasihin Masha terus melanjutkan program “Blasak-Blusukan” Ekonomi Rakyat.

Kali ini pria yang akrab dipanggil Ang Iing ini menemui petani garam di Blok Kandawaru, Desa Waruduwur, Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon, Selasa (18/7).

Blasak-blusuk Ekonomi Rakyat ini dalam rangka mewujudkan Desa Ekonomi di Kabupaten Cirebon. Dan sentra garam di Kandawaru ini merupakan salah satu penghasil garam yang besar di Indonesia. Namun hal ini banyak yang belum menyadarinya sehingga kurang mendapat perhatian dari pemerintah daerah.

“Blasak-blusuk Ekonomi Rakyat yang saya lakukan ini dalam rangka mewujudkan Desa Ekonomi. Karena Desa Ekonomi merupakan jalan terbaik untuk memajukan Cirebon dan menyejahterakan masyarakat Kabupaten Cirebon. Ini merupakan jalan sejati untuk mewujudkan keadilan sosial dan pemerataan ekonomi,” kata Kang Iing kepada sejumlah wartawan.

Garam, lanjut dia, merupakan kebutuhan sehari-hari manusia sehingga akan terus dibutuhkan. Dengan demikian garam merupakan barang yang bernilai ekonomi yang baik. Namun kenyataannya Indonesia masih menjadi importir garam. Hal itu tentu menghabiskan devisa negara. Untuk itu Kabupaten Cirebon bertekad untuk berkontribusi lebih optimal dalam masalah garam.

Ada beberapa langkah solusi yang bisa ditempuh pemerintah daerah untuk petani garam. Pertama, meningkatkan produksi garam. Kedua, menaikkan pendapatan petani garam.

Ketiga, menguatkan nilai tambah produk petani garam melalui berbagai bantuan yang bisa diberikan. Keempat, memberikan keterampilan lain kepada petani garam agar bisa memiliki pendapatan di saat musim hujan.

“Petani garam mengeluhkan harga yang tidak stabil dan penentuan standar kualitas yang tidak menguntungkan mereka. Harga bisa jatuh ke Rp 300 per kg. Namun sering Rp 600 per kg. Saat ini harga sedang bagus karena bisa di atas Rp 2.500 per kg. Namun produksi garam sangat rendah karena cuaca yang tidak mendukung,” jelasnya.

Menurutnya, petani garam pernah terpukul oleh impor garam besar-besaran dari Australia. Dan saat ini petani garam juga mengaku hanya bisa berproduksi 3-4 bulan dalam satu tahun. Sehingga mereka harus memiliki pendapatan di bulan-bulan lainnya.

“Mereka sangat membutuhkan pertolongan dari pemerintah agar garam di gudang tak dilepas dengan harga murah akibat tak punya uang,” pungkasnya. (Suhanan)

Loading Komentar....
loading...