fajarnews

Pedagang Heran, Setiap Hari Bayar Lima Karcis, Tapi Tak Mampu Sumbang PAD

Redaksi : Iwan Surya Permana | Senin, 17 Juli 2017 | 07:25 WIB

Adhe Hamdan
Salah seorang pedagang Pasar Tegalgubug, H Roni memperlihatkan karcis yang harus dibayarnya sebanyak lima kali dalam satu kali pasaran, Sabtu (15/7).*

 

Fajarnews.com, CIREBON- Tidak adanya kontribusi Pendapatan Asli Daerah (PAD) kepada pemerintah daerah dari Pasar Tegalgubug seperti yang disampaikan Camat Arjawinangun, Sutismo disesalkan sejumlah pedagang besar pasar tersebut.

Mereka mengaku, retribusi terus berjalan bahkan pungutan liar merajalela di dalam pasar terbesar se-Asia Tenggara itu.

Seperti yang disampaikan salah seoarang pedagang pakaian dan pemilik Lavina Textile, H Sahroni. Dirinya kaget saat mengetahui Pasar Tegalgubug yang memiliki luas 15 hektare dengan 14.000 pedagang setiap hari pasaran selalu dimintai retribusi karcis keamanan, kebersihan, baik siang maupun malam tetapi tidak ada retribusi ke pemerintah daerahnya.

“Setiap hari pasaran pedagang diberikan karcis sebanyak lima kali yang nilainya sebesar Rp1.000,- sampai Rp2.000,00. Bahkan malam pun pedagang diberikan karcis itu,  untuk satu orang pedagang kalau dikalikan 14 ribu pedagang saja sudah berapa. Tetapi kenapa tidak ada kontribusi untuk pemerintah daerahnya, ini sungguh memalukan,” tegas Sahroni kepada fajarnews.com, Sabtu (15/7).

Menurutnya, dalam satu kali pasaran sebanyak lima kali karcis diberikan kepada pedagang sehingga sehari pedagang harus mengeluarkan uang lima ribu lebih untuk membayar karcis saja.

Sedangkan kendaraan pengangkut barang dari dalam pasar, dan keluar dari pasar harus membayar Rp100 ribu perkendaraan kepada pengelola pasar.

“Dalam satu kali pasaran berapa kendaraan yang memuat barang dari Pasar Tegalgubug untuk dikirim ke daerah lain dikalikan Rp 100 ribu. Sudah sangat kelihatan sekali aliran uang yang masuk ke pengelola pasar, namun kenapa tidak ada PAD yang masuk ke pemerintah,” katanya.

Dirinya pun sangat menyayangkan, begitu besar aliran uang yang masuk ke pengelola pasar tetapi infrastruktur pasar tidak ada perhatiannya. Jalan rusak dimana-mana, padahal mereka yang mengangkut barang saat keluar pasar harus membayar Rp 100 ribu, tetapi jalan rusak tidak pernah diperbaiki.

Hal senada juga disampaikan pedagang besar lainnya, H Sefi, pemilik NS Textile. Menurutnya harusnya pengelola pasar bisa memperhatikan infrastruktur pasar sehingga pedagang bisa merasa nyaman saat berbelanja kendaraan pun saat memasuki jalan pasar nyaman karena infrsatrukur jalan bagus.

“Tetapi saat ini uang retribusi besar yang harus pedagang bayar, jasa angkutan kita yang keluarpun harus membayar hingga Rp 100 ribu,-. Tetapi infrsatruktur rusak semua, ke mana uangnya padahal untuk retribusi PAD ke pemerintah daerahpun tidak ada, ini sungguh ironis yang katanya pasar terbesar se Asia,” tandasnya. (Adhe Hamdan)

Loading Komentar....
loading...