fajarnews

Kominfo Tutup 50% Situs Penyebar Kebencian

Redaksi : Fatianto Fadhillah | Sabtu, 15 Juli 2017 | 14:05 WIB

Irwan Gunawan
Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara menjelaskan pentingnya menertibkan situs yang berisi menyebarkan kebenacian dan mengarah radikaliesme dalam acara Deklarasi Anti Radikalisme.*

Fajarnews.com, BANDUNG– Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menegaskan terus berusaha untuk mendata situs-situs penyebar kebencian dan radikalisme dan jika diketahui akan menutupnya.

Menkominfo, Rudiantara mengatakan, banyak menerima laporan dari masyarakat atau bahkan hasil penelusuran kementerian tentang banyaknya situs penyebar radikalisme itu.

“Sudah kami tindak lanjuti. Yang jelas 50 persen sudah berhasil ditutup dari total laporan yang masuk,” ujarnya tanpa mau merinci jumlah situs yang dilaporkan tersebut, Jumat (14/7) di Bandung.

Yang jelas menurutnya, berbagai upaya telah dilakukan pemerintah khususnya Kominfo untuk mencegah munculnya radikalisme melalui internet dan media sosial. Kominfo juga sudah melayangkan teguran kepada pengelola situs yang ada di luar negeri untuk tidak menyebarkan paham radikalisme di Indonesia.

Ia menegaskan penutupan situs itu harus cepat dilakukan sesuai dengan koridor hukum yang berlaku. Jika ada yang protes dipersilahkan untuk mengajukan keberatan dan akan diputuskan dengan jalur hukum.

“Ini harus ditindak dengan cepat, tidak bisa ditunda-tunda. Soal ada keberatan silahkan sebab ini Negara demokrasi,” tegasnya.

Ditenegaskan Rudiantara, media sosial seperti twitter atau facebook bisa saja ditutup jika ternyata memiliki dampak negatif lebih besar dan dapat mengganggu keutuhan NKRI.

Namun ia mengakui sangat sulit untuk mengontrol media sosial (medsos) karena Indonesia merupakan negara dengan pengakses atau pemilik akun media sosial yang sangat besar didunia. Disisi lain dapat menguntungkan namun bisa juga merugikan.

Ia menegaskan pihaknya meminta para penyedia platform untuk memenuhi permintaan pemerintah demi kepentingan negara. Penyedia platform harus melakukan sejumlah perbaikan agar pemanfaatan medsos lebih positif. 

"Sebenarnya, kami tidak ingin menutup medsos, yang didalamnya terdapat video file sharing. Kami lebih mengedepankan kerja sama. Untuk itu, kami meminta para penyedia platform, tahun ini, membuka kantor di Indonesia, bukan berupa consulting services company. Ini supaya terciptanya stabilitas dan kondusivitas di negara ini, termasuk dalam hal bisnis," paparnya.

Menurutnya jika ternyata menimbulkan efek negatif, bisa saja mereka akan ditutup usahanya di Indonesia. (Irwan Gunawan)

Loading Komentar....
loading...