fajarnews

DItemukan Tempat Karaoke di Bong Cina hingga Kos-kosan yang Diduga Jadi Tempat Mesum

Redaksi : Iwan Surya Permana | Jumat, 14 Juli 2017 | 09:10 WIB

Winarno
Sejumlah anggota Komisi II DPRD Kota Cirebon berdialog dengan penghuni salah satu rumah kos, saat sidak ke tanah bong (kuburan) Cina di daerah Wanacala, Kelurahan/Kecamatan Harjamukat, Kamis (13/7).*

Fajarnews.com, CIREBON- Komisi II DPRD Kota Cirebon menemukan berdirinya rumah tanpa sertifikat kepemilikan, kos-kosan dan tempat karaoke yang diduga dijadikan sebagai tempat mesum, di atas tanah bong (kuburan) Cina di daerah Wanacala, tepatnya di belakang Pasar Harjamukti (Kalitanjung), dalam sidak yang dilakukan, Kamis (13/7). 

Anggota Komisi II DPRD Kota Cirebon, Agung Suprino mengatakan, sidak itu dilakukan menyusul adanya pengaduan dari masyarakat, terkait adanya dugaan penjualan tanah bong Cina yang dilakukan kuncen kepada sejumlah masyarakat untuk keperluan pembangunan tempat tinggal (rumah).

"Memang benar sudah banyak rumah yang dibangun di atas tanah bong Cina yang hanya mengandalkan surat sporadik dari kelurahan, yang mengurus semua itu Parman sebagai kuncen di sini," kata Agung.

Menurut Agung, hasil sidak di bong Cina itu sangat mengejutkan anggota dewan. Di lokasi, lanjut Agung, anggota Komisi II DPRD menenukan sebuah rumah yang di dalamnya terdapat enam kamar sebagai tempat kos-kosan.

Tidak hanya itu, saat masuk ke dalam rumah ternyata pihaknya menemukan satu ruangan tertutup yang dilengkapi dengan peredam suara serta fasilitas sound system sebagai tempat karaoke. 

"Kami menduga tempat tersebut sebagai tempat mesum, masa dengan keadaan kamar yang kecil dihargai lima ratus ribu per bulannya, kan aneh," kata Agung. 

Terkait hal itu, pihaknya akan memanggil kembali pihak-pihak yang bersangkutan dengan tanah bong Cina itu, pada minggu pertama bulan Agustus, terutama Parman, kuncen yang mengatur semua pembangunan rumah di tempat itu. 

Sementara itu, Kuncen Bong Cina Wanacala, Parman mengelak, rumah kos yang didirikan di atas lahan kuburan warga Tionghoa itu sebagai tempat mesum.

Terkait penemuan ruang karaoke, ia berdalih hanya sebatas untuk hiburan dirinya saja dan tidak menjadi tempat yang tidak baik 

"Tidak ada tempat yang diduga mesum di sini, hanya sebatas kos-kosan biasa yang ditempati pasangan suami istri dan karyawan," tandasnya.

Diberitakan sebelumnya, terkait adanya dugaan praktik jual beli tanah bong Cina di daerah Wanacala, Komisi I dan Komisi II DPRD Kota Cirebon memanggil Lurah Harjamukti dan Badan Pertanahan Nasional Kota Cirebon guna meminta penjelasan atas tanah seluas tiga hektare tersebut, Rabu (12/7) kemarin.

Ketua Komisi II DPRD Kota Cirebon, Watid Shahriar meminta Lurah Harjamukti, Khaerul Anwar untuk menghentikan segala aktivitas di tanah Bong Cina Wanacala tersebut, termasuk mengeluarkan surat sporadik kepada warga. Pasalnya, status kepemilikan tanah bong Cina tersebut, hingga kini masih menjadi polemik.

Menurut Watid, surat sporadik yang dikeluarkan pihak kelurahan sangat tidak diperbolehkan. Pasalnya, dengan adanya surat sporadik tersebut, warga melakukan pembangunan di atas lahan sengketa tersebut, bahkan meminta menaikkan status atas tanah itu ke Badan Pertanahan Nasional. 

“Kami juga meminta kepada BPN untuk tidak memfasilitasi apapun terkait kepemilikan tanah di sana, sampai benar-benar diketahui pemilik tanahnya,” kata Watid.

Sebelumnya, adanya aktivitas jual beli tanah dan pembangunan rumah yang diklaim pihak Keraton Kasepuhan itu, menuai protes keras komunitas Tionghoa Cirebon. 

Tokoh Tionghoa Kota Cirebon, Andi Riyanto Lee mengatakan, pembangunan sejumlah rumah di atas makam (bong) merupakan pelanggaran hukum. Menurutnya, tanah itu merupakan tanah negara yang tidak bisa diklaim milik keraton atau milik siapapun.

“Saya minta mereka ditindak secara tegas, karena ini pelanggaran hukum,” katanya. (Winarno)

Loading Komentar....
loading...