fajarnews

Kemarau, Petani Beralih Mencetak Bata Merah

Redaksi : Andriyana | Selasa, 20 Juni 2017 | 00:04 WIB

ABR
Sambil menunggu musim hujan, petani di Majalengka mencetak bata merah untuk memenuhi kebutuhan keluarganya

Fajarnews.com, MAJALENGKA - Akibat musim kemarau, petani di sejumlah daerah di Kota Angin beralih profesi. Mereka menjadikan usaha membuat bata merah sebagai pekerjaan sambil menunggu datangnya musim hujan. Dengan mencetak bata merah mereka berharap kebutuhan keluarganya bisa tetap terpenuhi, terlebih menjelang Lebaran.

Menurut sejumlah petani di Desa Baribis, Kecamatan Cigasong, tidak ada pilihan lain bagi mereka untuk dapat beraktifitas disaat musim kemarau. Sebab pada saat musim kemarau lahan pertanian miliknya tidak mungkin untuk ditanami karena ketersediaan air untuk mengairi sawah kurang tersedia.

Kalau dipaksanakan untuk menanam padi biaya yang mesti dikeluarkan lebih mahal dari biasanya. “Air bisa saja terpenuhi,tetapi butuh biaya tambahan karena harus menyedot dari saluran irigasi atau sungai terdekat,” ungkap Sarja,petani setempat, Senin (19/6).

Karena kondisi itulah, kata dia, petani yang tidak memiliki modal cukup lebih memilih melakukan pekerjaan lainnya. Selain bekerja menjadi buruh proyek, ada juga yang memproduki bata merah. “Kalau kemarau begini,apa saja dikerjakan yang penting dapur tetap ngebul,” katanya.

Pekerjaan membuat bata merah, kata dia, sudah biasa dilakoni setiap memasuki musim kemarau. Dengan memproduksi bata merah kebutuhan utama keluarganya masih dapat terpenuhi.

Hal yang sama dilakukan oleh Sumpena, petani lainnya di Desa Girimukti, Kecamatan Kasokandel. Menurut Sumpena membuat bata merah saat musim kemarau sudah dijalankan sejak lima tahun terakhir. Sebelumnya ketika musim kemarau ia lebih memilih bekerja sebagai buruh di Jakarta atau Bandung.

“Dulu kalau tidak bertani saya ke kota,sekarang sudah tua tidak diijinlan lagi oleh istri dan anak-anak,daripada mengangur lebih baik yang membuat bata merah,” katanya.

Penghasilan dari mencetak bata merah kata dia dapat menutupi biaya kebutuhan keluarganya. ”Cukuplah untuk biaya makan keluarga, ”ujarnya.

Saat ini tambahnya, bata merah hasil produksinya dijual dengan harga Rp 350,-/biji untuk ukuran kecil.Sedangkan untuk bata ukuran besar ia jual Rp 600,-/biji.”Tapi saya hanya memproduksi yang kecil, karena permintaan untuk bata merah berukuran besar sekarang jarang-jarang,” pungkasnya. (ABR)

Loading Komentar....
loading...