fajarnews

Dinilai Berpotensi Timbulkan Keresahan, Polisi Amankan Peserta Bedah Buku

Redaksi : Iwan Surya Permana | Senin, 19 Juni 2017 | 09:10 WIB

ist
Anggota GMBI mendatangi Masjid Abdurrahman di Kelurahan Panjunan, Kota Cirebon, meminta agar acara bedah buku yang digelar salah satu ormas dibubarkan, Minggu (18/6).*

Fajarnews.com, CIREBON- Polres Cirebon Kota membubarkan kegiatan bedah buku yang akan diselenggarakan salah satu ormas di Masjid Abdurrahman, Kelurahan Panjunan, Kota Cirebon, karena dinilai dapat menimbulkan keresahan di kalangan masyarakat, Minggu (18/6).

Informasi yang berhasil dihimpun fajarnews.com menyebutkan, acara tersebut awalnya akan diselenggarakan di Masjid Al Jama’ah, Pertamina Klayan, dengan tema “Membentengi Akidah Umat dari Bahaya Pemurtadan” Ustaz Bernad Abdul Jabbar.

Namun, pada pelaksanaanya beredar pamflet yang memiliki tema berbeda. Pamflet yang menyebar melalui media sosial tersebut, dianggap berpotensi menimbulkan hasutan dan dapat memicu terjadinya keresahan di masyarakat.

Beredar informasi, kelompok masyarakat tertentu menolak diadakannya bedah buku tersebut, meski awalnya pihak DKM Masjid Al Jama’ah Pertamina memberikan izin karena temanya yang tidak provokatif, sebelum beredarnya pamflet lain yang dinilai bernada provokatif.

Ist
Buku berjudul “Umat Islam di Bawah Cengkraman Kristenisasi” yang akan dibedah ormas tertentu yang dibubarkan polisi.*

Kapolres Cirebon Kota, AKBP Adi Vivid Agustiadi Bachtiar mengatakan, kegiatan tersebut diketahui sejak tersebarnya pamflet di media sosial yang bernada provokatif dan hasutan untuk mengintimidasi golongan tertentu. Pamflet yang tersebar itu bertuliskan, “Awas Cirebon mu dan Jabar mu Zona Bidikan Utama Kristenisasi”.

 “Tadimalam kami mendapatkan informasi adanya bedah buku tentang kristenisasi yang akan berlangsung di Masjid Al Jama’ah, Klayan. Yang jadi permasalahan, pamflet yang tersebar di media sosial bernada provokatif dan hasutan kemudian menyudutkan agama tertentu,” kata Adi.

Mendapati informasi tersebut, lanjut Adi, pihaknya langsung menemui Ketua DKM, Ustaz Asep untuk meminta klarifikasi. Pihaknya menunjukkan pamphlet yang dimaksud kepada Asep.

“Setelah melihatkan pamflet tersebut, Ustaz Aseptidak menyetujui acara dilangsungkan di Masjid Al Jama’ah Pertamina Klayan, karena di sini ada upaya-upaya untuk menghasut. Kemudian oleh Ustaz Asep, panitianya di telefon dan mengatakan tidak setuju masjidnya dijadikan sebagai tempat acara, karena tidak sesuai kesepakatan yang awalnya pamflet bernada halus, ‘Membentengi Akidah Umat dari Bahaya Pemurtadan’. Di sini sudah jelas ada perbedaan dan resmi langsung kita tutup,” jelasnya.

Minggu (18/6) pagi, lanjut Adi, patroli tim Media Sosial Polres Cirebon Kota wan berhasil menemukan acara tersebut dipindahkan ke Masjid Abdurrahman, Kelurahan Panjunan. Mendengar hal tersebut, pihaknya langsung bergegas menuju tempat acara.

“Tadi pagi (kemarin, red) kita ke masjid tersebut dan mengimbau kepada panitia agar acara tersebut dibatalkan, karena sudah menimbulkan keresahan beberapa elemen massa. Kebetulan saat kita sedang berkoordinasi dengan panitia, ada ormas yang datang untuk menyampaikan ketidaksetujuannya dan meminta untuk dibubarkan, karena bisa membawa situasi Kota Cirebon tidak aman dan tidak kondusif,” ujarnya.

Di lokasi, puluhan anggota ormas GMBI dan Laskar Macan Ali menuntut agar acara tersebut dibatalkan. Sementara itu, pihak kepolisian mengamankan Ketua GAPAS, Andi Mulya, beserta 20 peserta bedah buku termasuk pemateri, Ustaz Bernad Abdul Jabbar. Mereka langsung dibawa menuju Polres Cirebon Kota untuk dilakukan pemeriksaan.

“Untuk tersangka belum ada, karena kami baru akan melakukan pemeriksaan selama 1x24 jam. Kita juga sudah berkoordinasi dengan FKUB (Forum Kerukunan Umat Beragama)dan juga mendapatkan bantuan dari Tim Siber Crime dari Polda Jabar,” ujarnya.

Menurut Adi, dari 20 orang yang diamankan pihaknya tersebut, salah seorang di antaranya merupakan mantan napi teroris yang pernah meracuni anggota polisi di Aceh. Orang tersebut, merupakan teman dari pelaku pengeboman di salah satu masjid di Cirebon, yang teradi beberapa tahun lalu.

 “Kita periska terkait pelanggaran Undang-Undang Nomor 11 tahun 2008 tentang ITE pasal 45 ayat 2, dimana bunyinya telah terjadi dugaan tindakan penghasutan melalui penyebaran informasi untuk menimbulkan rasa kebencian terhadap kelompok massa, suku, agama dan golongan tertentu,” pungkasnya.

Sementara itu, pascaterjadinya penangkapan peserta bedah buka, beredar di media sosial klarifikasi yang diduga ditulis pihak ormas yang menjelaskan, selain bedah buku acara tersebut sedianya dibarengi santunan kepada anak yatim dan buka puasa bersama.

Dalam klarifikasinya, pria yang mengaku bernama Rifai Iwan itu mengaku, setelah ditolak dilaksanakan di Masjid Al Jama’ah Pertamnia Klayan, pihaknya memindahkan tempat kegiatan dan melakukan negosiasi agar format acara diubah hanya berupa santunan dan buka bersama, namun tetap saja mereka digelandang ke kantor polisi.

Hingga berita ini ditulis, puluhan peserta bedah buku tersebut masih dalam proses pemeriksaan pihak Polres Cirebon Kota. (Agus Didi)

Loading Komentar....
loading...