fajarnews

Sawah di Kota Cirebon Menyusut 10 Hektare Setiap Tahunnya

Redaksi : Iwan Surya Permana | Rabu, 17 Mei 2017 | 09:10 WIB

Andriyana
Dumptruk melakukan pengurukan tanah di lahan persawahan yang sebagian besar telah dimiliki para pengembang untuk perumahan di Kota Cirebon. Akibatnya, lahan persawahan di kota Cirebon pun menyusut drastis hingga 10 hektare setiap tahunnya.*

Fajarnews.com, CIREBON- Dinas Pangan Pertanian Kelautan dan Perikanan (DPPKP) Kota Cirebon mencatat, akibat pertumbuhan perumahan yang sangat tinggi, lahan pertanian padi di Kota Cirebon menyusut 5-10 hektare (Ha) setiap tahun.

Hal itu dikemukakan Kasi Pertanian DPPKP Kota Cirebon, Gunawan terkait kondisi lahan pertanian di Kota Cirebon. Menurut Gunawan, saat ini luasan lahan sawah di Kota Cirebon hanya tersisa 205 hektare.

“Itu luas baku. Mungkin setiap hari berkurang karena adanya perumahan. Penyusutannya tergantung ketika memang pengembang membutuhkan untuk buat perumahan. Karena saat ini kebanyakan lahan-lahan itu sudah milik pengembang,” kata Gunawan, usai acara Rapat Koordinasi Pengawalan dan Pendampingan Upsus (Upaya Kusus) Padi, Jagung dan  Kedelai, di Hotel Dewanti Kota Cirebon, Selasa (16/5).

Menurutnya, penyusutan lahan sawah antara 5 hingga 10 hektare per tahun tergolong sangat tinggi. Ia pun menyebut, sisa lahan sawah tersebar  di tiga kecamatan yakni Kecamatan Lemahwungkuk, Harjamukti dan Kecamatan Kesambi.

“Rata-rata produktivitas kita masih berkisar 5 sampai 6 ton per hectare. Tapi kalau musim sekarang ini agak turun produktivitasnya karena banyak hama, jadi kurang dari 5 ton,” ujarnya.

Lebih lanjut dikatakannya, sebagian petani di Kota Cirebon juga sudah ikut asuransi pertanian. Dari 205 hektare luas sawah di Kota Cirebon, sekitar 80 hektare area sawah telah diasuransikan.

“Ada asuransi padi AUTP, ada asuransi ternak AUTS. Itu untuk menjamin resiko kalau ada gagal panen bisa di back up oleh asuransi. Untuk padi sudah ada 80 hektare yang ikut asuransi. Bayarnya cuma 20 persen, sekitar Rp 36 ribu. Kemudian dapatnya Rp 6 juta per hektare kalau ada resiko,” paparnya.

Gunawan mengatakan, tahun 2017 ini, DPPKP Kota Cirebon tengah menggenjot pelaksanaan program Pengawalan dan Pendampingan Upsus (Upaya Khusus) Padi Jagung dan Kedelai. Untuk menyukseskan program tersebut, DPPKP menggandeng kerjasama dengan Kodim 0614 Kota Cirebon.

Menurutnya, TNI bersama dengan Babinsa dan penyuluh akan melakukan pendampingan upaya khusus dalam rangka peningkatan produksi padi, jagung dan kedelai. Program itu merupakan program nasional.

Karena di Kota Cirebon tidak ada pertanian jagung dan kedelai, sehingga program pendampingan hanya dilakukan pada petani padi. "Kita jagung dan kedelai tidak ada, hanya padi," katanya.

Lebih lanjut dikatakan, pendampingan ini dimaksudkan agar sarana produksi pertanian seperti alat pertanian, bantuan dari Kementerian Pertanian, bisa dipergunakan secara maksimal oleh petani.

“Kemudian pupuk subsidi, agar penyebarannya sesuai dengan alokasi karena itu barang yang dibantu oleh pemerintah, sehingga jangan ada penyimpangan,” paparnya.

Ia berharap semua pendampingan itu akan membuahkan hasil maksimal sehingga dapat berkontribusi pada program swasembada pangan yang dicanangkan pemerintah pusat.

“Harapannya agar dengan pendampingan maka pelaksanaannya bisa berjalan dengan lancar, baik pupuk kemudian alat itu digunakan dengan baik sampai ke petani, sehingga meningkatkan produksi pertanian lebih baik,” pungkasnya. (Andriyana)

 

 

Loading Komentar....
loading...