fajarnews

Persembahan Bumi Jadi Tema Desain Gedung Kesenian Jabar

Redaksi : Iwan Surya Permana | Rabu, 17 Mei 2017 | 14:05 WIB

Irgun
Gubernur Jabar, H. Ahmad Heryawan dan Wagub H. Deddy Mizwar sedang melihat pemenang sayembara desain Gedung Pusat Kesenian dan Budaya Jawa Barat di Aula Timur Gedung Sate Bandung.*

Fajarnews.com, BANDUNG- Sayembara desain Gedung Pusat Kesenian dan Budaya Jawa Barat atau West Java Art and Cultural Centre (WJACC) telah memasuki tahapan final.

Tim Panitia sebelumnya telah menyeleksi 110 peserta. Dari jumlah ini ada 68 peserta yang memasukkan berkas dokumen fisik. Sementara dokumen yang layak dipajang untuk dinilai sejumlah 67 berkas dari 68 Peserta.

Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan (Aher) menyayangkan, dari lima nominasi yang masuk babak final, tidak ada desain hasil karya peserta asal Jawa Barat.

"Dua desain berasal dari Jakarta, satu desain masing-masing dari Solo, Semarang, dan Yogyakarta," ungkap Aher di Gedung Sate, Selasa (16/5).

Kelima nominasi dinilai oleh Tim Juri dan diperlihatkan kepada publik di Aula Timur Gedung Sate Bandung. Konsep kelima nominasi tersebut memiliki tema unik dan menarik, yaitu  Menari di Panggung Alam, Persembahan Bumi, Saung Parahyangan, Saung Taluh dan Riungan Awi.

Ketua Dewan Juri WJACC Gunawan Tjahjono dari The Indonesian Institute of Architects (IAI) menjelaskan, pihaknya mensyaratkan beberapa kriteria umum dalam penilaian. Pertama, bangunan bukan merupakan tiruan dari bangunan yang telah ada dan dapat merepresentasikan ikon Jawa Barat yang inovatif.

"Kedua, bangunan harus memenuhi persyaratan kehandalan bangunan termasuk keamanan, keselamatan dan kenyamanan, termasuk penyediaan fasilitas aksesibilitas, khususnya difabel," katanya.

Pada penilaian ini, keluarlah pemenang sayembara dengan konsep "Persembahan Bumi". Pemenang sayembara ini juga merupakan hasil penilaian Dewan Juri yang merupakan pakar arsitektur, diantaranya Budi A Sukada dari The Indonesian Institute of Architects (IAI), Baskoro Tedjo (IAI), dan seniman Tisna Sanjaya. Ada juga Juri Kehormatan yaitu Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat.

Dalam konsep ini, ditampilkan filosofi rangkaian pengalaman ruang spiritual, gotong-royong persembahan, perayaan, doa, dan pesta. Adapun terdapat bentuk 'Sangu Tumpeng' sebagai cerminan budaya masyarakat yang syarat makna.

Sementara kultur persembahan dan perayaan menggambarkan masyarakat Nusantara yang bersifat agraris. Maka dari refleksi konsep tersebut terdapat bentuk yang mengadopsi petakan sawah bertangga dengan kolam sebagai irigasi buatan.

Terkait struktur bangunan, struktur yang digunakan merupakan gabungan antara konstruksi beton sebagai penahan plat lantai, konstruksi baja digunakan untuk mengubah bentuk kerucut dan load bearing wallpaper pada dinding perimeter.
 
Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar mengutarakan, Pemprov Jabar sengaja menggandeng IAI Jawa Barat untuk menyaring ide dan gagasan desain Pusat Seni dan Budaya Jawa Barat yang berkualitas baik dan berstandar internasional.

Dikatakannya, gedung kesenian memadai perlu ada sebagai bentuk penghargaan dan fasilitas terhadap seni dan budaya. Sementara 'bangunan unik' yang akan dibangun akan menjadi Landmark baru di Jawa Barat.

Disamping itu Deddy juga mengungkapkan,  Jawa Barat dan Nusantara pada umunya memiliki seni pertunjukkan yang luar biasa. Maka agar bisa menghargai khasanah budaya bangsa tersebut salah satunya dengan memberikan tempat pertunjukan seni yang selayaknya. 

Pusat Seni dan Budaya Jawa Barat (WJACC) akan berlokasi di BPPTKP Bandung, Jalan Pahlawan No. 70 Neglasari, Cibeunying Kaler, Kota Bandung berdiri diatas lahan seluas hampir 4 hektar.

Akan ada satu hall utama dengan kapasitas penonton hingga 1.500 orang dan empat atau lima ruang untuk area pertunjukkan seni-budaya bagi komunitas, pelajar atau mahasiswa, serta ruang pameran berstandar internasional serta area komersial seperti hotel dan mall pun akan terintegrasi dengan kawasan WJACC ini.

Bangunan akan dirancang dengan konsep green building, serta mengikuti aturan bangunan khususnya yang berlaku di Kota Bandung.

Di antaranya seperti Perda No. 5 Tahun 2010 tentang Bangunan Gedung, Perwal No. 1023 Tahun 2016 tentang Bangunan Gedung Hijau dan lainnya dengan anggaran (pekerjaan standar dan nonstandar) sekitar Rp 600 Miliar. Proyek konstruksi rencananya akan mulai dikerjakan pada 2018. (Irgun)

Loading Komentar....
loading...