fajarnews

958 Hektare Sawah Tercemar Limbah Batu Alam

Redaksi : Iwan Surya Permana | Selasa, 16 Mei 2017 | 07:25 WIB

Dede Kurniawan
Herman Khaeron (kanan) melakukan sidak ke salahsatu usaha batu alam di kawasan Dukupuntang bersama rombongan dari Kementrian LH, Senin (15/5).*

Fajarnews.com, CIREBON- Sedikitnya 958 hektare areal persawahan di tiga kecamatan di Kabupaten Cirebon terindikasi tercemar limbah batu alam yang mengaliri Sungai Jamblang. Tiga kecamatan tersebut terdiri dari Kecamatan Dukupuntang, Plumbon dan Depok.

Di Kecamatan Dukupuntang sedikitnya ada 9 desa yang lahan sawahnya tercemar dengan luas areal mencapai 409 hektare, di Kecamatan Plumbon ada 6 desa yang tercemar dengan luas wilayah sekitar 355 hektare, dan di Kecamatan Depok ada 5 desa yang tercemar dengan luas areal mencapai 194 hektare. Jumlah tersebut belum menghitung beberapa kecamatan lain yang dilewati Sungai Jamlang.

“Sungai Jamblang yang mengalir di Kabupaten Cirebon telah mengalami pencemaran yang cukup parah, akibat limbah produksi olahan batu alam yang berada di sekitar aliran sungai,” ujar Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan, Kementerian Lingkungan Hidup, MR Karliansyah saat melakukan sidak di aliran Sungai Jamblang, Desa Warujaya, Kecamatan Depok, Kabupaten Cirebon, Senin (15/5).

Dikatakan Karliansyah, keruhnya aliran sungai Jamlang ini dikarenakan adanya butiran halus (batu, red) dari sisa produksi batu alam yang jumlahnya cukup banyak sepanjang aliran sungai. Hal itu yang mengakibatkan pencemaran yang sangat luar biasa.

Bahkan dia menilai, dari kisaran normal air baku ambang batas untuk partikel terlarut maksimal 500 mg/liter, sementara untuk Sungai Jamblang diperkirakan telah sangat melampaui batas.

“Kami akan mengadakan pilot project untuk pembuatan Kolam Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL). Sehingga nantinya air yang telah digunakan dalam proses produksi bisa kembali digunakan. Dengan adanya IPAL tidak hanya membuat sungai menjadi bersih, namun pengusaha bisa memanfaatkan air tersebut untuk usaha pertanian atau usaha ikan air tawar,” katanya.

Untuk tahap awal, menurut Karliansyah, pihaknya akan mencari lokasi yang nantinya digunakan sebagai kolam besar. Kolam yang diperkirakan akan menghabiskan dana Rp 1 miliar itu nantinya bisa dimanfaatkan oleh 10 pengusaha skala sedang hingga besar.

“Jika kolam tersebut bisa diterima oleh masyarakat, maka pihaknya meminta agar pengusaha skala besar di tempat lain turut membuatnya. Sementara untuk pengusaha skala sedang dan kecil nantinya akan diprioritaskan untuk mendapatkan bantuan dari pemerintah. Jadi kita bertahap kasih contoh bahwa ini tidak rugi dan justru bermanfaat untuk membuka ruang ekonomi baru. Kalau ini berhasil dan masyarakat sadar nanti kita akan buat lagi,” ucapnya.

Sementara itu Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Herman Khaeron, mengatakan, akan turut mensosialisasikan hal tersebut. Pihaknya memastikan jika program tersebut tidak akan mengganggu usaha masyarakat, dan malah dianggapnya menguntungkan.

“Sekarang kementerian sudah siap memberikan kemajuan ekonomi ke depan untuk masyarakat. Jadi nanti air yang keluar (dari IPAL) sudah sesuai baku mutu dan bisa dipergunakan lagi. Malah endapannya itu juga bisa dimanfaatkan untuk batu bata,” tandas pria yang akrab disapa Hero itu. (Dede Kurniawan)

Loading Komentar....
loading...