fajarnews

PKL Keluhkan Pembatasan Waktu Berjualan

Redaksi : Iwan Surya Permana | Senin, 15 Mei 2017 | 08:45 WIB

Hasan Hidayat
: PKL Karanggetas tetap bisa berjualan dengan menyediakan ruang untuk pejalan kaki di trotoar walaupun SP III sudah dikeluarkan.*

Fajarnews.com, CIREBON- Pedagang Kaki Lima (PKL) sepanjang Jalan Siliwangi-Karanggetas menolak diaturnya waktu berdagang, khususnya PKL di depan salah satu toserba di Jalan Karanggetas.

Mayoritas pedagang meminta peraturan pembatasan waktu tersebut dikaji kembali, karena menurut pedagang kebijakan tersebut dinilai dapat mengurangi pedapatan.

Seperti yang dikatakan salah seorang PKL yang berjualan di atas trotoar di Jalan Karanggetas, Saidah. Ia mengatakan, dirinya dan sesama PKL lainnya mengeluh pendapatannya akan berkurang apabila pembatasan waktu jualan itu terus diterapkan.

Karena, kata dia, sejauh ini dirinya sudah mencoba mengikuti apa yang diperintahkan kepada PKL seperti memberi ruang untuk pejalan kaki, dan tetap konsisten menjaga kebersihan dan ketertiban lingkungan.

“Saya harap pemerintah juga mendengar keinginan kami, biar sama-sama enak, kami masyarakat ingin diayomi dengan kebijakan yang benar-benar bijak,” ungkapnya, Minggu (14/5).

PKL lain, Rasmin juga mengungkapkan, dirinya biasa membuka lapak mulai pukul 10.00 hingga 24.00 WIB. Tetapi dengan aturan yang harus membuka dagangan setelah pukul 12.00 WIB sampai 21.00 WIB dirinya khawatir pendapatannya mengurang.

“Kalau saya buka tidak dari pagi dan tutup maksimal pukul 21.00, pendapatan tentunya mengurang. Saya harap kalaupun harus direlokasi saya ingin ditempatkan yang bisa buka 24 jam,” ungkapnya.

Sebelumnya, Pedagang Kaki Lima (PKL) Jalan Siliwangi-Karanggetas sudah bisa bernafas lega, sebab setelah dikeluarkannya SP3 untuk mereka, mereka sempat was-was ditertibkan, namun pada kenyataannya mereka masih diperbolehkan berjualan di atas trotar di wilayah tersebut.

Kepala Satuan Polisi Pamong Praja, Andi Armawan mengatakan, masalah PKL ini memang masalah klasik yang terjadi diberbagai daerah. Menurut Andi, sebenarnya PKL ini paham dengan aturan-aturan yang harus dilakukannya, seperti mereka berjualan di atas trotoar, berjualan di bahu jalan, para PKL ini paham konsekuesinya.

“Sekarang bagaimana dari kitanya, yakni tim peñata dan pembina PKL terutama dari dinas teknis yang menangani UMKM, semua harus sinergis,” ungkapnya.

Saat disinggung kenapa PKL setelah mendapat SP 3 tidak direlokasi, Andi mengaku, pihaknya menyadari lokasi Kota Cirebon ini lahannya terbatas sehingga untuk relokasi membutuhkan waktu tidak singkat karena sulitnya mencari lahan relokasi.

Menurutnya, pihaknya sudah melakukan rapat ulang dan memutuskan bahwa Satpol-PP member toleransi PKL  untuk berjualan kembali. Namun, dengan persyaratan PKL membuka dagangannya setalah pukul 13.00 WIB sampai 21.00 WIB. (Hasan Hidayat)

 

Loading Komentar....
loading...