fajarnews

Poktan Jamur Merang Tak Tersentuh Bantuan

Redaksi : Iwan Surya Permana | Jumat, 12 Mei 2017 | 14:45 WIB

 

Fajarnews.com, CIREBON- Lima Kelompok Tani (Poktan) Jamur Merang Desa Kedongdong, Kecamatan Susukan, Kabupaten Cirebon tidak pernah tersentuh bantuan pemerintah daerah.

Bahkan Dinas Koperasi melalui Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) tidak pernah tahu. Mereka membudiyakan Jamur Merang dengan mengandalkan hutang ke para tengkulak.

Padahal, lima kelompok tani Jamur Merang Desa Kedongdong memiliki 52 tempat tanam jamur (Kumbung, red) Jamur Merang yang dibuat dari modal sendiri tanpa sentuhan bantuan pemerintah daerah.

Padahal, itu merupakan pemberdayaan masyarakat Desa Kedongdong yang harus diperhatikan. Karena tidak  adanya perhatian dari pemerintah daerah, terpaksa merekapun hanya mengenal tengkulak dalam menjalankan usahanya.

Salah seorang petani Jamur merang Desa Kedongdong, Jabidi (45) mengatakan, selama 2 tahun petani budiya jamur merang di desa tersebut tidak pernah ada bimbingan ataupun bantuan, baik dari pemerintah desa sendiri maupun dari pemerintah daerah melalui UMKM.

“Selama 2 tahun kami mandiri dalam menjalankan usaha budidaya jamur merang ini, meski harus pontang panting dalam mencari permodalan. Bahkan harus pinjam ke para tengkulak dengan syarat memberatkan, salahsatunya jamur-jamur  kami tidak boleh dijual ke yang lain dengan harga  menurt kami terlalu rendah,” jelas Jabidi kepada fajarnews.com, Kamis (11/5).

Dikatakannya, dari lima kelompok yang ada, terdapat 52 kumbung jamur dengan ukuran rata-rata 6 x 3,5 meter persegi.

Dengan ukuran kumbung sebesar itu, modal yang harus dikeluarkan para patani budidaya jamur mencapai Rp16 juta perkumbung, belum ongkos dan matrial pembuatan kumbung.

“Kalau satu petani saja sudah bisa membuat 4 sampai 5 kumbung, berapa modal yang harus dikeluarkan dan harus kemana mencari uang modal sebesar itu. Karena, perhatian dari pemerintah desa sendiri tidak ada, bahkan pemerintah desa tidak pernah datang untuk melihat kumbung-kumbung kami apalagi memberiakn arahan kami harus bagaimana,” ujarnya.

Dijelaskannya, padahal masyarakat Desa Kedongdong mayoritas membudiyakan jamur merang. Dalam sekali musim panen satu kumbung dengan waktu 15 hari bisa menghasilkan 2 kwintal jamur merang dengan dihargai hanya Rp 26 ribu perkilo.

Hal senada dirasakan petani Jamur merang lainnya, Musa (57). Selama ini dirinya bersama teman-temannya sangat membutuhkan bimbingan dalam segala hal, baik permodalan maupun cara pemasaran jamur merang.

“Di Desa Kedongdong selama dua tahun belum pernah ada penyuluhan atau arahan tentang jamur merang, baik dari pemerintah desa maupun dari pemerintah daerah dalam hal ini Dinas Koperasi.

Padahal ini menurut kami aset untuk pemberdayaan masyarakat desa, karena sekali panen satu kumbung saja bisa menghasilkan 2 kwintal jamur kalau dikalikan 52 kumbung sudah berapa ton,” jelasnya.

Dirinya sangat berharap pemerintah desa atau Dinas Koperasi bisa memfasilitasi dan memberiakan pelatihan petani jamur merang desanya untuk mendapatkan permodalan yang selama ini menjadi kendala utamanya. (Adhe Hamdan)

Loading Komentar....
loading...