fajarnews

PMII Minta Pemkab Buat Formulasi Budaya Literasi Jangka Panjang

Redaksi : Iwan Surya Permana | Kamis, 20 April 2017 | 18:25 WIB

Sopandi
Pelantikan Pengurus PMII Cabang Kuningan sebelum dilaksanakan seminar nasional.*

 

Fajarnews.com, KUNINGAN- Pemerntah Daerah Kabupaten Kuningan diminta menyiapkan formulasi mutakhir dalam menumbuhkan budaya literasi jangka panjang. Program pembangunan, tidak selamanya berfokus pada fisik saja, melainkan harus beriringan dengan pembangunan wawasan beserta segenap sumber daya manusia.

Demikian diungkapkan Dedi Selamet Riyadi, salah satu narasumber seminar nasional yang dilaksanakan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Kuningan, di Gelanggang Pemuda, Rabu (19/4).

Menurut dia, rendahnya budaya literasi atau minat baca berpengaruh signifikan terhadap kehidupan masyarakat. Tidak hanya pada minimnya kemampuan verbal dan linguistic dalam menyampaikan gagasan, tetapi juga terhadap terbentuknya kondisi sosio cultural yang buruk.

“Akibat rendahnya minat baca, masyarakat lebih menggemari percakapan tidak bermakna, seperti gossip dan nongkrong, daripada membaca buku ketika waktu luang,” kata penulis dan penerjemah di sejumlah penerbit nasional itu kepada audiens.

Penting segera menyiapkan formulasi mutakhir dalam menumbuhkan budaya baca, mengingat hampir semua negara maju di bidang teknologi dan kehidupan social ekonomi, merupakan negara yang menginvestasikan keilmuannya melalui dunia literasi atau membaca.

Dari 61 negara yang diteliti oleh John W. Miller dkk, kata Dedi, term skala terbesar prilaku terkait dunia literasi di masyarakat dipimpin oleh Filandia, Norwegia, Islandia, Denmark, dan negara-negara maju lainnya.

“Indonesia ada di urutan ke-60. Kedua terakhir di atas Bostwana. Tertinggal jauh oleh Jepang di posisi ke-32, China ke-39, dan negara lain di Asia Tenggara. Minimnya minat baca ini menghambat kemajuan serta penguasaan teknologi. Dan ini terbukti di Indonesia, termasuk Kuningan di dalamnya,” kata Dedi.

Kabupaten Kuningan, kata Dedi, dari 1,1 juta penduduknya baru sekitar 1100 orang yang memiliki minat dan rajin membaca. Hal itu disebutkan merujuk pada hasil survey Uniesco pada tahun 2012, dimana indeks minat baca Indonesia tercatat baru mencapai 0,001. Dalam mendapatkan informasi, menurutnya, masyarakat Indonesia lebih memilih menonton televisi atau mendengarkan radio.

“Keluarga di kita lebih mewariskan kultur mendengar daripada membaca. Jarang ditemui di setiap rumah yang didalamnya menyimpan rak yang berisikan sederet buku. Sebagaimana hasil survey BPS tahun 2012, 91 persen penduduk usia di atas sepuluh tahun lebih suka menonton televisi daripada membaca. Dampak yang sangat konkrit adalah banyak orang yang menjadi konsumen hoax dan konten-konten pembunuh nalar,” tuturnya.

Pantauan fajarnews.com, acara seminar yang dipadukan dengan Pelantikan Pengurus Cabang PMII Periode 2017-2018 itu diisi juga oleh narasumber lain dari DPR-RI, H. Yanuar Prihatin. Menurut Diding Zaenudin selaku Ketua Umum PMII Kuningan, kehadiran Yanuar menggantikan Kadisdikbud Kuningan Dr. Dian Rachmat Yanuar, yang berhalangan hadir pada kesempatan itu. (Sopandi)

Loading Komentar....
loading...