fajarnews

Curah Hujan Ekstrim, Budidaya Cabai Bertahan

Redaksi : Fatianto Fadhillah | Jumat, 3 Februari 2017 | 11:30 WIB

SOPANDI
Didi Juandi Membersihkan tanaman cabai yang dikelolanya, dalam kurun waktu hampir dua bulan tanaman yang dinilai rentan terserang hama itu tumbuh subur dan berbuah.

Fajarnews.com, CIREBON - Keuletan Didi Juandi dalam menekuni budidaya cabai patut diacungi jempol. Pasalnya, di tengah curah hujan yang cukup tinggi, dia tetap menekuni kreativitasnya itu walau harus bergelut dengan berbagai hama dan penyakit tanaman.

Didi mengaku, tindakan itu dilakukannya bukan tanpa alasan. Apalagi tanpa diawali rencana dan persiapan yang matang. Menurutnya, dia menjalani budidaya itu dibarengi keseriusan yang mantap dan keyakinan terhadap apa yang sudah dipelajarinya. Adapun sengaja menanam cabai dimusim hujan kali ini, untuk membuktikan bahwa penilaian musim hujan tidak cocok untuk menanam cabai merupakan kalim yang tidak sepenuhnya benar.

“Memang gangguan yang saya rasakan kali ini jauh lebih banyak daripada musim kemarau. Berbagai penyakit dan hama terus datang bergantian, dari hama batang, daun, dan buah. Tapi itu justru tantangan bagi saya untuk bisa ditemukan solusinya,” kata Didi kepada Fajarnews.com, saat ditemui di area kebunnya di pesawahan Desa Cilowa, Kecamatan Kramatmulya, Kuningan, Kamis (2/1).

Terbukti kata dia, dari berbagai hama dan penyakit yang merusak, pohon cabai yang hampir memasuki usia dua bulan itu bisa bertahan dan berbuah. Kalaupun ada beberapa pohon yang terserang hama dan mati, Didi menyebutkan, jumlahnya tidak sebesar yang dikhawatirkan.

“Dari kurang lebih 1.700 pohon yang saya tanam, hanya ada beberapa pohon, kurang lebih 50 saja yang mati dan dipastikan gagal panen. Alhamdulillah, jumlah ini diluar kehawatiran saya sebelumnya yang tak terbayang jumlahnya,” tuturnya.

Dia membenarkan penilaian tentang rentannya hama dan penyakit pada pohon cabai ketika musim hujan. Hanya saja, menurutnya, kondisi itu bisa terjadi ketika upaya perawatan yang dilakukan para petani tidak maksimal. Dengan perawatan yang maksimal, dia memastikan, pertumbuhan pohon tersebut akan baik-baik daja dan mengasilkan cabai dalam kualitas maksimal.

“Memang sulit mengubah paradigm yang sudah mapan. Kebanyakan petani masih memilih-milih cuaca atau musim sebelum menanam cabai seperti ini. Karena itu jangan kaget kalau sering terjadi kelangkaan stok dan berdampak pada naiknya harga di pasar. Menurut saya, kalau serius merawat pertumbuhannya, seberapa besar atau sebanyak apapun jenis hama, pasti bisa diatasi,” kata Didi sambil menunjukan perkembangan sejumlah pohon cabainya.

Dia juga menyebutkan, dari jumlah benih yang dia tanam itu, diperkirakan mampu mengahasilkan satu kilogram cabai perpohonnya. Walaupun dimusim hujan, menurutnya, hasil panen diprediksi tidak akan jauh berbeda dari musim yang cocok untuk menanam tanaman itu.

“Kalaupun ada kekurangan dari hasil normal, saya nilai wajar-wajar saja. Karena itu, selain upaya perawatan yang maksimal, saya juga tidak berhenti berharap. Berdoa, supaya proses yang saya lakukan dengan penuh kesungguhan ini bisa membuahkan hasil. Kalau ini berhasil, mudah-mudahan bisa diikuti oleh petani-petani cabai yang lain,” tandas Didi yang saat ini terlibat aktif di Kelompok Tani Desa Cilowa itu.

SOPANDI

Loading Komentar....
loading...