fajarnews

Izin Lingkungan Tower PT IBS Dipertanyakan

Redaksi : Iwan Surya Permana | Rabu, 11 Januari 2017 | 14:30 WIB

 

Fajarnews.com, CIREBON- Perizinan tower seluler PT Inti Bangun Sejahtera yang berada di Desa Karangwangi, Kecamatan Depok, Kabupaten Cirebon dipertanyakan warga. Pasalnya, 22 kepala keluarga (KK) yang berada di sekitar tower itu hanya 10 KK yang menandatangi izin lingkungannya.

Tower bersama yang sudah berdiri tegak satu bulan lalu itu, saat ini menuai reaksi dari warga sekitar. Mereka menilai PT IBS diduga akal-akalan saat melakukan perizinan lingkungan, hal itu terungkap saat warga mempertanyakan proses terbitnya perizinan lingkungannya kepada desa setempat.

Mukidi, salah seorang warga sekitar mempertanyakan prosedur terbitnya izin lingkungan dan kompensasi bagi warga sekitar tower. Menurutnya langkah Pemdes Karangwangi yang langsung teken izin pendirian tower itu terkesan asal saja, karena tanpa melakukan kroscek ke lapangan terlebih dulu.

Dikatakannya masyarakat yang berlokasi disekitar tower itu tidak sedikit, jumlahnya mencapai 22 KK termasuk dirinya yang hanya berjarak sekira 50 meter dari lokasi berdirinya tower. Harusnya dirinya juga termasuk dalam kelompok warga yang menandatangani izin lingkungan hingga mendapat kompensasi sebagai syarat proses pembangunan tower.

“Saya tidak merasa ikut menandatangani izin lingkungan itu, padahal rumah saya tidak jauh dari lokasi tower, hanya 50 meter saja. Dan masih banyak orang lain yang belum menandatangani, namun pembangunan tower tetap berjalan hingga sekarang berdri tegak,” terangnya kepada media, Selasa (10/1).

 Sementara Kuwu Desa Karangwangi, Kaeron saat dikonfirmasi melalui mandor (Kaur Pemerintahan),Daryanto, diakuinya hal itu karena kelalaian pihak pemdes. Sebab, saat itu pihaknya hanya melihat di atas kertas yang disodorkan pihak vendor, yakni 10 warga yang terdata dan menyetujui.

Menurutnya, setelah diketahui jumlah data sebenarnya warga yang masuk dalam radius dan terpapar radiasi, pihak pemdes sempat mengambil tindakan tegas dengan menghentikan sementara proses pembangunan tower itu.

“Saat itu karena ada gejolak warga,pekerjaan sempat terhenti, tapi setelah pihak vendor mau mengakomodir keinginan warga tersebut, akhirnya pembangunan di  teruskan  kembali hingga berdiri dan aktif," tukas Daryanto.

Dijelaskannya, pihaknya sangat menyayangkan karena pihak vendor tower bersama itu sampai saat ini tidak menyelesaikan permasalahan tersebut hingga wargapun selalu mendatangi balai desa karena mereka tahunya ke desa.

“Warga terus mempertanyakan itu karena tahunya hanya kepada desa, padahal sampai saat ini setelah tower berdiri vendorpun tidak pernah datang lagi. Padahal warga hanya meminta konfensasi gelombang kedua yag dijanjikan vendor,” ungkapnya. 

ADHE HAMDAN

 

Loading Komentar....
loading...