fajarnews

Soal Penipuan Berkedok Investasi Miliaran Rupiah, Kejari Bentuk Tim JPU

Redaksi : Iwan Surya Permana | Selasa, 10 Januari 2017 | 10:45 WIB

 

Fajarnews.com, INDRAMAYU- Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Indramayu telah menetapkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam persidangan  perkara penipuan berkedok investasi yang dilakukan pasangan suami istri (pasutri)  SA bin Wartana dan Did bin Ridwan.

Kasie Pidana Umum Kejari Indramayu, Jaya Sitompul mengatakan, tim JPU telah ditunjuk untuk persidangan di Pengadilan Negeri Kabupaten Indramayu. Berkas perkara kasus penipuan dan penggelapan jual beli emas yang dilakukan oleh tersangka pasangan suami istri (pasutri) sudah lengkap dan siap untuk disidangkan. "Rencanannya, besok (hari ini red) akan kita kirimkan berkasnya ke Pengadilan Negeri Kabupaten Indramayu," ujarnya, Senin (9/1).

Pelaku yang juga Pasutri itu, didakwa pasal 378 dan pasal 372 KUHP tentang tindak pidana penggelapan. Selain menahan dua tersangka investasi bodong, Kejaksaan Negeri Kabupaten Indramayu juga akan menyerahkan barang bukti ke Pengadilan Negeri Kabupaten Indramayu berupa kendaraan roda empat berjenis sedan dan kendaraan roda dua. Kerugian dalam penipuan berkedok investasi ini mencapai Rp 7,43 miliar.

Jaya menambahkan, perkara penggelapan dengan modus investasi ini, atas laporan dari masyarakat soal penipuan dan penggelapan bermodus kerjasama jual beli emas dan investasi.

Pasutri diketahui sebagai paranormal yakni Dik dan SA berhasil memperdaya puluhan pengusaha. Pasutri tersebut menjanjikan keuntungan lebih dari 10 persen dari total investasi yang dititipkan. Pasutri tersebut juga mengaku memiliki investasi usaha di sejumlah lokasi di Kota dan Kabupaten Cirebon.

Sejumlah pengusaha logam mulia yang diperdaya oleh pasutri ini di antaranya, H. Pateri,(38) sebesar Rp1,5 miliar, Titin Sulastini (30) sebesar Rp1,6 miliar, Tumino (49) sebesar Rp140 juta, Ajo Suarjo (50) sebesar Rp2,2 miliar dan Safei (60) sebesar Rp1,9 miliar.

"Awalnya, berupa bisnis logam mulia dengan sistem bagi hasil. Selama empat bulan terakhir, pengembalian uang dilakukan sesuai dengan yang dijanjikan. Tapi, dalam dua bulan terakhir, mulai tersendat pengembalian uangnya," kata Pateri.

Ia mengaku selama empat bulan pertama, investasi dengan modus sistem bagi hasil dilakukan secara bertahap. Pada bulan pertama, pelaku meminjam uang puluhan juta. Setelah itu, peminjaman uang dilakukan dengan jumlah yang lebih besar mulai dari Rp 300 juta, hingga Rp 500 juta. Bahkan, yang terakhir, jumlah totalnya mencapai Rp 1,5 miliar.

Pasutri pelaku investasi bodong tersebut telah ditahan oleh Polres Indramayu pada akhir Oktober 2016 lalu. Meski telah ditahan Polres Indramayu, namun sejumlah korban tetap meminta pertanggungjawaban secara perdata. Sementara itu kuasa hukum kedua tersangka, Otto Suyoto mengatakan, kliennya menyiapkan sejumlah bukti, soal dugaan penggelapan dalam investasi tersebut.

"Kami juga menyiapkan bukti soal tidak adanya kerjasama atau perjanjian yang mengikat antara klien kami dan pelapor yang mengaku sebagai korban," kata dia.

IHSAN

Loading Komentar....
loading...