fajarnews

Terus Merugi, Perumda Farmasi Revitalisasi Manajemen PBF

Redaksi : Fatianto Fadhillah | Selasa, 10 Januari 2017 | 15:00 WIB

Fajarnews.com, CIREBON - Mendongkrak pendapatan dari sektor penjualan obat-obatan, Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Farmasi Kota Cirebon merevitalisasi manajemen penjualan besar farmasi (PBF) yang selama ini mengalami kerugian dan sulit mendapat keuntungan. Direktur Utama (Dirut) Perumda Farmasi Kota Cirebon, Agung Prabowo mengatakan, upaya meningkatkan kembali pendapatan dari penjualan besar farmasi (PBF) saat ini Perumda Farmasi sedang menyusun strategi perencanaan bisnis dengan menjalin kerja sama dengan rumah sakit-rumah sakit di Kota Cirebon, termasuk rumah sakit milik pemerintah.

“Kesiapan kami agar perusahaan ini maju mulai dari garis nol. Karena dari dulu-dulu, Perumda Farmasi Kota Cirebon belum bisa dipercaya oleh rumah sakit-rumah sakit untuk bisa menyediakan obat-obatan yang berkualitas dan harga terjangkau,” ungkapnya kepada “Fajarnews.com” Senin (9/1).

Agung menjelaskan, Perumda Farmasi tidak pernah mengajukan penyertaan modal untuk mengembangkan sayap perusahaan milik pemerintah daerah. Hal itu dilakukan agar perusahaan bisa mandiri dan tidak bergantung pada APBD dalam menjalankan usaha bisnis farmasi.

Pada manajemen usaha di sektor PBF, dikatakannya Perumda Pasar pada awal tahun 2017 ini, tepatnya di Februari mendatang akan melakukan MoU dengan perusahaan besar farmasi di Bandung, agar bisa menyanggupi persediaan obat-obatan. Sehingga dari persediaan obat-obatan itu bisa didistribusikan untuk pemenuhan kebutuhan di rumah sakit dan apotek-apotek.

“Sementara ini kondisi PBF manajemennya masih belum efektif. 2017 ini kami menjalin kerjasama dengan perusahaan farmasi dan pemasarannnya ke apotek-apotek dan rumah sakit, termasuk RSUD Gunungjati,” katanya.

Dirinya mengaku Perumda Farmasi belum mempunyai katalog daftar obat-obatan yang dibutuhkan untuk rumah sakit dan apotek. Untuk itu, di awal tahun ini katalog bisa dibuat beluh dulu kemudian bisa melakukan MoU dengan beberapa rumah sakit untuk pemenuhan obat-obatan.

Diterangkan Agung, dari awal menjabat sabagai Dirut Perumda Farmasi belum ada rencana bisnis yang pasti sehingga target pendapatan setelah pajak sangat minim dan tidak sebanding dengan jumlah penyertaan modal  dari Pemkot Cirebon pada 2015 lalu. Disebutkan, target pendapatan setelah pajak di tahun ini hanya berkisar Rp800 juta. Angka itu sudah termasuk untuk operasional. Sementara target pendapatan yang tercapai pada tahun-tahun sebelumnya sangat minim sekali.

“Pendapatan perusahaan ini sangat kecil sekali. Untuk itu, kami benar-benar mulai bekerja dari nol,” ujarnya.

Selain membangun kerjasama dengan perusahaan farmasi dan rumah sakit, Perumda Farmasi juga berencana mengembangkan usaha klinik di Apotek Ciremai. Agung menjelaskan, di Apotek Ciremai sudah tersedia beberapa dokter spesalis, sementara belum memiliki manajemen terpadu untuk membuat klinik.

Dia menambahkan, kebijakan pemerintah Kota Cirebon belum terintegrasi dengan program BPJS Kesehatan dalam penyediaan obat-obatan sembilan penyakit kronis seperti jantung, darah tinggi, gula, dan penyakit-penyakit yang setiap bulan mengonsumsi obat-obatan khusus.

“Karena kebijakan BPJS itu mendapat subsidi obat selama 30 hari, tujuh hari dipaket gratis dari BPJS, selanjutnya menebus obat sendiri di apotek yang bekerjasama dengan BPJS. Dari situ kebutuhan di apotek, inginnya kami yang menyanggupi kebutuhannya,” ujarnya.

WILDAN

Loading Komentar....
loading...