fajarnews

Pegawai Hotel di Kota Cirebon Hanya 5 Persen Warga Pribumi

Redaksi : Andriyana | Jumat, 27 Mei 2016 | 01:23 WIB

Ist
Ilustrasi

Fajarnews.com, CIREBON- Pertumbuhan perekonomian Kota Cirebon yang belum dirasakan oleh warga pribumi, terjadi karena tenaga kerja lokal kalah bersaing dengan tenaga kerja dari luar Cirebon.

Bahkan, menurut Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Cirebon, Kiki Reza menyebutkan tenaga kerja lokal yang bekerja di hotel-hotel yang berada Kota Cirebon tidak mencapai sampai 5 persen.

“Pegawai hotel yang asli warga Kota Cirebon itu masih dibawah lima persen, kami (pengusaha hotel, red) tidak pernah membeda-bedakan calon karyawan itu dari warga Kota Cirebon atau dari kabupaten, yang penting layak bekerja atau tidak,” ujarnya saat ditemui di kediamanya di Jalan Katiasa, Kamis (26/5)

Sebagai pengusaha, dirinya tentu ingin mencari tenaga kerja yang berkualitas dan bisa diandalkan sesuai dengan bidang pekerjaannya. Rekrutmen calon tenaga kerja, Kiki melihat jumlah pencaker yang berminat bekerja di bidang perhotelan dan restoran, kebanyakan berasal dari Kabupaten Cirebon.

Sehingga, tidak bisa disalahkan apabila karyawan yang kerja di hotel-hotel Kota Cirebon itu kebanyakan luar daerah. “Di hotel saya sendiri, jumlah karyawan dari Kota Cirebon itu yah hitungan jari, bahkan tidak sampai 10 orang,” ungkapnya.

Dirinya menilai, sebagai pemilik hotel di Kota Cirebon dirinya pun merasa senang jika ada warga asli daerah pun mengambil peluang kesempatan kerja. Akan tetapi, saat perhotelan hendak mencari tenaga kerja asli warga Kota Cirebon, harusnya pencaker segera menyiapkan diri  dengan kompetensi dan keterampilan yang dibutuhkan.

“Kalau ada warga kota yang layak bekerja di hotel-hotel di daerah sendiri, kenapa nggak?,” ujarnya.  

Usulan dari pemerintah Kota Cirebon, yang menginginkan agar pengusaha hotel, restoran dan perusahaan di Kota Cirebon lainnya memprioritaskan warga pribumi, ditanggapi Kiki, bahwa solusi itu sangat baik dan diterima oleh pengusaha. Akan tetapi, Pemkot pun harus punya tanggungjawab untuk menyiapkan tenaga kerja yang kompeten dengan bidangnya, dan bisa diandalkan.

Kemudian, pemkot pun harusnya mempunyai komitmen dengan pengusaha hotel untuk memberikan manfaat, seperti memperbaiki infrastruktur. “Kenyataan di lapangan, secara pendidikan banyak warga luar Kota Cirebon itu kinerjanya baik, terus terang untuk posisi di bagian GM dan Supervisor itu kebanyakan berasal dari luar Kota Cirebon” ujar Kiki.

Usulan Wali Kota Cirebon, Nasrudin Azis terkait bagaimana rekrutmen tenaga kerja yang dilakukan pimpinan perusahaan tidak harus mempertimbangkan ijazah dan kelulusannya, Kiki menanggapi perusahaan tentu harus selektif mengangkat karyawan. Bagi pencaker yang belum memiliki pengalaman kerja, otomatis pertama kali yang dilihat adalah ijazah dan lulusannya.

“Saya pribadi sih setuju saja ada kebijakan itu, asal pemkotnya punya komitmen, dan perlu menjamin bahwa tenaga kerja lokal yang disedikan itu berkualitas. Serta ada hal-hal yang positif bisa dirasakan oleh pengusaha hotel,” pungkasnya .

Sebelumnya, Wali Kota Cirebon, Nasrudin Azis berharap para pemilik perusahaan tidak lagi melihat kualifikasi pencaker berdasarkan dengan ijazah atau lulusannya. Akan tetapi, seharusnya perusahan melihat kompetensi yang dimiliki pencaker. Menurutnya, terlalu sulit perusahaan jika mencari tenaga kerja yang sesuai dengan kualifikasi dan lulusannya.

“Para pimipinan perusahaan harus menerima jika pelamar kerja itu memang mampu melakukan bidang pekerjaan yang dibutuhkan, tanpa melihat ijazah atau lulusannya sesuai atau tidak, Kalau hanya membutuhkan yang sesuai dengan lulusan, itu akan susah diterima,” pungkas Azis.

WILDAN IBNU WALID

Loading Komentar....
loading...