fajarnews

Lama Menunggu Penerbitan Izin, Ratusan Nelayan Indramayu Nganggur

Redaksi : Rosyidi | Sabtu, 20 Februari 2016 | 10:13 WIB

IEM
Kondisi Pelabuhan perahu nelayan yang tak terurus. Padahal potensi TPI besar, namun koperasi nelayan tak kunjung eksis.

Fajarnews.com, INDRAMAYU- Lambannya penerbitan Surat Izin Usaha Penangkapan (SIUP) dan Surat Izin Penangkapan Ikan (SIPI) dari Kementerian Kelautan dan Perikanan RI, berdampak pada menganggurnya ratusan nelayan di Kabupaten Indramayu.

Ketua Serikat Tani Tradisional (SNT) Kabupaten Indramayu, Kajidin mengatakan, saat ini kondisi nelayan yang menggunakan kapal berkapasitas di atas 30 gross tonnage (GT), cukup memprihatinkan. Pasalnya, Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 57 tahun 2014 tentang Usaha Perikanan Tangkap di Wilayah RI, mengharuskan kapal penangkap ikan yang memiliki kapasitas di atas 30 GT, mengantongi sejumlah perizinan.

Pembuatan maupun perpanjangan SIPI, khususnya untuk kapal-kapal di atas 30 GT, sesuai aturan merupakan kewenangan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) di Jakarta.

“Yang menjadi masalah, mengurus SIUP dan SIPI ini memakan waktu berbulan-bulan. Ini yang membuat ratusan nelayan di Indramayu menganggur. Sebenarnya ini bukan hanya dialami ratusan nelayan di Indramayu saja, tapi ribuan nelayan lain di seluruh Indonesia," kata Kajidin kepada “FC”, Jumat (19/2).

Ia mengatakan, untuk bisa melaut, setiap kapal nelayan di atas 30 GT tersebut, harus dilengkapi sekitar 12 perizinan. Namun, untuk mengurus belasan perizinan tersebut, dibutuhkan waktu hingga berbulan-bulan lamanya.

Ia mencontohkan, untuk mengurus SIUP dan SIPI saja dibutuhkan waktu hingga enam bulan. Belum lagi buku kapal yang menjadi bagian dari persyaratan tersebut, pengurusannya membutuhkan waktu hingga dua tahun.

"Itu baru tiga macam surat, belum lainnya. Pokoknya susah dan lama," ujar Kajidin.

Ia menambahkan, jika pemilik kapal tidak memenuhi semua surat perizinan tersebut, maka mereka tidak berani melaut. Pasalnya, mereka akan terjaring razia oleh aparat keamanan di laut.

Akibat kondisi tersebut, lanjut Kajidin, ratusan nelayan yang biasa bekerja menjadi anak buah kapal (ABK), kini kehilangan pekerjaan. Padahal, menjadi ABK di kapal-kapal besar merupakan mata pencaharian utama mereka selama ini.

Menurutnya, para nelayan yang biasa menjadi ABK itu kemudian ada yang mencoba menjadi nelayan tradisional dengan menggunakan kapal kecil. Namun, melaut dengan kapal kecil seringkali terhambat gelombang tinggi dan minimnya hasil tangkapan di laut.

"Akhirnya, banyak yang beralih profesi sambil menunggu izin kapal selesai," kata dia.

Selain menjadi kuli bangunan, banyak pula nelayan yang beralih pekerjaan menjadi pengayuh becak, pemulung maupun bekerja di bengkel sepeda. Hal itu mereka lakukan agar tetap dapat memenuhi kebutuhan keluarga.

Salah seorang nelayan, Catiman mengaku, saat ini terpaksa bekerja di bengkel sepeda. Pasalnya, kapal milik majikannya kini belum bisa berlayar karena belum mengantongi izin resmi.

"Kalau melaut pakai perahu kecil malah rugi terus karena tangkapan ikan juga terbatas," kata dia.

Menurutnya, nelayan dan pemilik kapal di Kabupaten Indramayu mengeluhkan lamanya proses pembuatan SIPI. Ketiadaan surat-surat tersebut, membuat mereka kerap berurusan dengan aparat keamanan di laut.

Catiman menuturkan, kapalnya berlayar mencari ikan di laut sebanyak tiga kali  dalam setahun. Itu berarti, dengan lamanya pengurusan SIPI yang memakan waktu berbulan-bulan, secara otomatis mengurangi keberangkatan kapalnya.

Padahal, keberangkatan kapal untuk mencari ikan di laut menjadi sumber penghasilan bagi pemilik kapal maupun nelayan yang menjadi ABK. Jika kapal tidak berangkat, maka otomatis pemilik kapal dan ABK tidak dapat memperoleh penghasilan.

Senada, seorang nakhoda kapal, Siraj menambahkan, selama SIPI belum di tangan, dia dan ABK-nya tidak mau keluar melaut. Pasalnya, jika nekat melaut tanpa SIPI, maka akan ditangkap aparat keamanan di laut.

"Dulu pernah dijanjikan akan dipermudah dalam pengurusan SIPI, tapi nyatanya tetap sulit dan lama,"tutur Siraj.*

 

IHSAN MAHFUDZ

Loading Komentar....
loading...