fajarnews

Difteri di Susukan Tersebar Berawal dari Penolakan Imunisasi

Redaksi : Rosyidi | Rabu, 3 Februari 2016 | 12:26 WIB

SHN
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon, H Moh Sofyan.

Fajarnews.com, CIREBON- Wabah difteri yang menyerang delapan warga Blok Cantilan Pesantren Salaf Pamijen, Desa Sampih, Kecamatan Susukanlebak, Kabupaten Cirebon, mengakibatkan tiga orang meninggal dunia, sementara empat warga lainnya harus mendapatkan perawatan intensif di ruang isolasi khusus RSUD Gunung Jati Kota Cirebon.

Informasi yang diperoleh “FC” dari Kuwu Desa Sampih, Suherman, wabah difteri tersebut, pertama kali diketahui pada 20 Desember 2015 silam.

Saat itu, lanjut Suherman, tiga anak-anak yang masih saudara kandung dan tinggal di komplek Pesantren Salaf Pemijen masing-masing, Nurul Luluil Mahfudoh, Ismatul Maula dan Uswatun Hasanah, terserang penyakit semacam gondong (leher bengkak) dengan suhu badan tinggi.

 Lantaran panas yang diderita tak kunjung turun, mereka akhirnya di bawa ke RSUD Gunung Jati. Dari hasil pemeriksaan rumah sakit, diketahui mereka menyidap virus difteri. Namun sayang nyawa ketiga saudara kandung itu tidak tertolong.

Ironisnya, sebulan kemudian, Sabtu (30/1), tiga sepupu korban terserang penyakit yang sama. Mereka masing-masing,  Naila Zahwatun Nufus, Melani Napisah dan Muhammad Yasin Asyakiri.

Menurut Suherman, berdasarkan informasi dari dokter yang merawat korban, mereka terjangkit penyakit difteri karena  tidak dilakukan imunisasi saat masih balita.

Suherman mengakui, balita di komplek pesantren salaf tersebut, mengikuti kegiatan posyandu, namun belum bisa menerima cairan imunisasi yang diteteskan melalui mulut (diminumkan), lantaran belum jelas kehalalannya.

“Kalau kesehatan mereka mengerti, tetapi tahu sendiri bagaimana komunitas salaf yang katanya, maaf, cairan tersebut mengandung minyak yang diharamkan. Meski penting tetapi petugas menghargai pemahaman dan keyakinan mereka,” kata Suherman kepada “FC”, Selasa (2/2).

Menurutnya, saat ini pihak Dinas Kesehatan sudah memberikan pemahaman, jika kandungan cairan imunisasi yang ditetekan kedalam mulut anak balita tersebut halal.

“Rencananya Dinas Kesehatan akan melakukan sosialisasi ke pesantren, Jumat (5/2) lusa, untuk memberikan pemahaman kepada mereka,“ tandasnya.

Sementara itu terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon, Moh Sofyan mengatakan, pihaknya sudah melakukan tindakan guna mencegah beredar luasnya bakteri yang diakibatkan, tidak diimunisasinya penderita difteri tersebut sejak balita.

Tindakan itu, dengan memeriksaan orang yang memiliki resiko tertular di wilayah tersebut, ke laboratorium di Bandung Jawa Barat.

 “Kasusnya memang dari pertengahan Bulan Desember kemarin. Ada tiga warga yang mengalami gejala difteri dan setelah diperiksakan memang positif. Akan tetapi, nampaknya kondisi tubuh mereka memang lemah sehingga tidak bisa tertolong. Satu orang lainnya, diketahui positif setelah adanya tes di laboratorium pascaempat orang yang dirawat ini diketahui terdapat penyakit difteri,” jelas Sofyan.

Menurut Sofyan, banyaknya warga di Desa Sampih terjangkit bakteri difteri akibat keengganan orang tua membawa anaknya untuk diimunisasi.

Padahal, Sofyan menegaskan, imunisasi sangat diperlukan bayi dan balita untuk mencegah penyakit yang mengganggu sistem imunitas (kekebalan tubuh).

“Imunisasi itu sangat diperlukan guna mencegah hal yang tidak diinginkan termasuk wabah difteri ini. Tinggal ibunya datang ke posyandu saja, dan ini gratis karena memang program imunisasi ini program pemerintah,” ujarnya.*

 

NAWAWI, SUHANAN

Loading Komentar....
loading...