fajarnews

Soal Ceceran Crude Oil, BLH Indramayu Tunggu Hasil Lemigas

Redaksi : Iwan Surya Permana | Jumat, 4 Desember 2015 | 07:30 WIB

 

Fajarnews.com, INDRAMAYU- Sepekan sudah ceceran crude oil ditemukan di sepanjang pesisir pantai Desa Singaraja- Karangsong Indramayu, namun belum juga ditemukan siapa pemiliknya. Bahkan pihak PT.Pertamina RU VI mengklaim bahwa benda tersebut bukan milik pengolahan minyak terbesar di Asia Tenggara ini.

Terkait hal itu, beberapa pihak pun menduga hal itu adalah bagian dari unsur kesengajaan atau sabotase dan persaingan bisnis, sehingga ini menjadi PR besar Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Indramayu. Sementara hingga kini BLH Indramayu masih melakukan upaya untuk memastikan siapa pemilik benda tersebut yang berpotensi merusak laut Indramayu.

“Mohon bersabar, kami BLH akan mengirimkan sampel ceceran minyak itu ke Lemigas, untuk mengetahui apakah benda tersebut sejenis crude oil atau bukan, agar mendapat kepastian,” ungkap Kepala BLH Indramayu, Aep Surahman melalui Kasubid Pengendalian Pencemaran, Didi Permadi, Kamis (3/12).

Menurutnya, hanya badan milik negara di bawah naungan Kementerian ESDM yang dapat menjawab hasil uji laboratorium dan penelitian secara akademik atas benda sejenis crude oil yang juga pernah terjadi pada November 2014 silam di lokasi yang sama.

“Kami tidak mau terburu-buru atau malah menuduh salah satu BUMN, sekalipun dalam konferensi pers kemarin, PT. Pertamina RU VI Balongan sudah mengawali tidak mengakui sebagai pemilik ceceran benda tersebut, maka kami mohon sampai pekan depan sedikit ada informasi lanjutan,” tuturnya.

Sementara Sekretaris Koalisi Masyarakat Pesisir Indramayu (KOMPI), Iing Rohimin menyayangkan, sikap yang dilakukan oleh PT.Pertamina RU VI Balongan yang mengklaim bukan pemilik ceceran minyak tersebut, apalagi dasar yang disampaikan kepada wartawan dalam jumpa pers kemarin hanya bersifat analisa internal.

“Jika memang berani, RU VI Balongan sampaikan kepada publik hasil uji laboratoriumnya secara jelas dan detail, bukan hanya asumsi, jadi menurut saya langkah itu terlalu buru-buru,” tuturnya.

Ia menyatakan, di perairan Indramayu banyak sekali aktivitas minyak dan gas yang selama ini beroperasi, maka Kompi tetap menuding benda ceceran minyak mentah tersebut adalah milik Pertamina dan pihak BUMN migas tersebut harus bertanggungjawab atas pencemaran lingkungan.

“Persoalannya, peristiwa tersebut berulang kali terjadi dan tidak ada kejelasan, maka kami sebagai masyarakat nelayan terus mendorong pemerintah daerah agar segera menemukan siapa pemilik benda tersebut,” terangnya. (IEM)

 

Loading Komentar....
loading...