fajarnews

Ribuan Hektar Lahan Pertanian di Majalengka Dibiarkan Menganggur

Redaksi : Rosyidi | Senin, 5 Oktober 2015 | 14:00 WIB

ABR
Pengendara motor melintasi sisi areal persawahan yang dibiarkan menganggur selama musim kemarau.

Fajarnews.com, MAJALENGKA- Akibat tidak tersedianya air, ribuan hektar areal pertanian di berbagai daerah tidak difungsikan. Tidak hanya di kawasan utara, hektaran areal pertanian yang tidak ditanami dengan komoditi pertanian apapun juga banyak ditemui di daerah kawasan selatan tengah, timur ataupun selatan Kabupaten Majalengka.

Menurut para petani, sebenarnya merasa sayang melihat lahan pertaniannya tidak dimanfaatkan. Namun karena tidak tersedianya kebutuhan air, areal pertanian tersebut dibiarkan menganggur.

“Sebenarnya sayang, tetapi bagaiamana lagi airnya tidak ada, saluran irigasi sudah tidak menyisakan air lagi, sedangkan hujan juga tidak kunjung turun,”ujar Eha petani di Desa Pasir Ayu Kecamatan Sindang, Minggu (4/10).

Menurut dia, sebenarnya air di wilayah tersebut tidak habis sama sekali, masih ada sungai yang cukup untuk memenuhi kebutuhan air guna tanaman palawija. Namun petani berhitung ulang untuk melakukan penanaman, sebab areal pertanian berada di atas sungai sehingga airnya harus diangkat dengan menggunakan mesin sedot.

“Hitungannya menjadi mahal, karena petani mesti mengeluarkan biaya tambahan untuk menyedot air,” katanya.

Eha berharap hujan segera turun sehingga petani bisa segera mengolah kembali lahan pertaniannya. “Kalau musim kemarau tidak segera berakhir akan semakin lama lahan pertanian dibiarkan mengangur ,” tuturnya.

Membiarkan areal pertanian menganggur juga dilakukan para petani di wilayah utara Kota Angin. Karta petani di Desa Andir Kecamatan Jatiwangi mengatakan, banyak petani di daerahnya memilih tidak mengolah lahan sawah miliknya.

Hal itu terpaksa dilakukan karena kondisinya tidak memungkinkan untuk menanam padi ataupun tanaman palawija karena tidak adanya air.

”Petani tidak punya pilihan selain membiarkan lahan pertanian sampai menunggu musim hujan,” katanya.

Tak hanya petani di Kecamatan Jatiwangi yang membiarkan lahannya menganggur, sebagian petani di Kecamatan Sumberjaya juga melakukan hal yang sama. Di kecamatan tersebut hektaran lahan sawah dibiarkan menganggur oleh pemiliknya karena tidak tersedianya air.

”Sawah di sini tidak semua mengandalkan pengairan tehnis, sebagian lagi merupakan sawah tadah hujan sehingga  kalau memasuki musim kemarau ya dibiarkan menganggur,” tutur Makmun petani di Desa Cidenok.

Ia menambahkan, lahan pertanian di daerahnya belum semuanya mengggunakan pengairan tehnis. Sehingga saat musim kemarau cukup banyak lahan pertanian berupa sawah yang dibiarkan tidak ditanami padi ataupun tanaman palawija.

”Karena air untuk mengairi lahan kurang,akhirnya lahan sawah dibiarkan saja sambil menunggu musim hujan,”jelasnya.(ABR)

Loading Komentar....
loading...