fajarnews

Kekeringan Sudah Meluas, Puncak Kemarau Baru Akan Mulai

Redaksi : Rosyidi | Kamis, 17 September 2015 | 09:35 WIB

BMKG Stasiun Meteorologi Jatiwangi.
Prakiraan Tingkat Ketersediaan Air Tanah pada September 2015 di Wilayah III Cirebon dan sekitarnya..

Fajarnews.com, CIREBON- Kekeringan sudah semakin meluas seperti yang dirasakan beberapa waktu terakhir ini khususnya di wilayah eks Karesidenan Cirebon (Kota/Kabupaten Cirebon, Indramayu, Kuningan dan Kabupaten Majalengka), ternyata belum menjadi bagian dari puncak musim kemarau. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Jatiwangi memperkirakan, puncak kemarau baru akan terjadi pada akhir bulan September hingga awal bulan Oktober mendatang.

Informasi tersebut terungkap dalam diskusi bulanan “FC” bertemakan “Mencari Cara Keluar dari Bencana Kekeringan” yang diselenggarakan di Kantor “FC” Jl. Pangeran Cakrabuana No. 3 Talun Kabupaten Cirebon, Rabu (16/9).

Hadir dalam kegiatan tersebut perwakilan BMKG Jatiwangi, Ahmad Faaizin, Kabid Lingkungan Hidup Bappeda Kota Cirebon, Agung Kemal, dan Bidang Ekonomi Bappeda Kota Cirebon, Yuni Puspitawati, Kepala Seksi Konservasi Kantor Lingkungan Hidup (KLH) Kota Cirebon, Hendra, Kepala Bidang SPP Bappeda Kabupaten Cirebon, Dangi,  Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kabupaten Cirebon, H Tasrif Abubakar, dan Ketua Gapoktan Kabupaten Cirebon, H Uug Khujaeni.

Menurut Staf Forecaster BMKG Jatiwangi, Ahmad Faa Izin, suhu saat ini baru mencapai 35 derajat celcius dan akan mencapai puncaknya 38 derajat celcius di akhir September hingga awal bulan Oktober mendatang.

El Nino

Menurut Ahmad, kondisi  yang terjadi saat ini akibat El Nino, yakni suatu gejala penyimpangan kondisi laut yang ditandai dengan meningkatnya suhu permukaan laut (sea surface temperature-SST) di Samudra Pasifik sekitar equator (equatorial pacific) khususnya di bagian tengah dan timur (sekitar Pantai Peru).

“Akibat kondisi tersebut, kondisi permukaan air laut di wilayah Indonesia justru menurun. Hal itu menyebabkan potensi penguapan air laut yang dapat membentuk awan hujan tidak terjadi. Akibatnya, curah hujan akan rendah bahkan berpotensi tidak ada hujan sama sekali untuk jangka waktu tertentu,” kata Ahmad, saat menyampaikan pemaparannya.

Efek El Nino, lanjut Ahmad, hanya berdampak pada sebagian wilayah di Indonesia, karena sebagian wilayah lain justru tidak terkena efek El Nino tersebut. Wilayah yang tidak terkena dampak El Nino di Indonesia yakni sebagian Pulau Sumatra Barat hingga Aceh.

“Efek ElNino ini menyebakan intensitas hujan rendahdan kekeringan sebagian wilayah Indonesia termasuk Cirebon. Efek El Nino yang terjadi di tahun 2015 ini, polanya hampir sama dengan tahun 1997 lalu. Kondisi ini mengakibatkan kekeringan lebih dari normal dari tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini termasuk yang cukup parah,” terangnya.

El Nino, menurut Ahmad, menyebabkan penyimpangan cuaca (anomali) yang berdampak sangat luas. Salah satu dampak tersebut, lanjut Ahmad, yakni mundurnya awal musim hujan hingga jangka waktu yang cukup lama.

“El Nino meyebabkan berkurangnya intensitas curah hujan dari normalnya dan mundurnya awal musim hujan, dan ini berdampak sebagian wilayah Cirebon mengalami kekeringan ekstrim lebih dari 60 hari, yang meliputi daerah Gegesik, Cangkuang (Babakan), Lemahabang dan Karangsembung,” jelasnya.

Menurut Ahmad, berdasarkan prediksi BMKG, hujan baru akan turun di wilayah Cirebon dan sekitarnya di akhir bulan November atau awal bulan Desember.

“Kalau melihat pola yang terjadi sekarang, BMKG memperkirakan awal musim hujan untuk Kabupaten dan Kota Cirebon akan mundur di akhir November atau awal Desember,” tandasnya.

Berdampak Luas

Pada kesempatan yang sama, Redaktur Eksekutif I HU. Fajar Cirebon, Hasan Ma'arif mengatakan,sebelum pemaparan pihak BMKG dirinya mengira kekeringan yang terjadi saat ini sudah mencapai puncak kemarau, namun ternyata jika melihat data dan paparan BMKG, justru baru akan mulai.

Padahal menurutnya, akibat panjangnya kemarau ini berdampak pada kekeringan dimana-mana, sehingga ada beberapa masyarakat yang terpaksa menggunakan air kubangan untuk keperluan mandi dan mencuci.

“Bahkan di daerah Indramayu kekeringan lahan pertanian disinyalir jadi penyebab meningkatnya kasus perceraian,” kata Hasan.

Sementara itu Kabid Lingkungan Hidup Bappeda Kota Cirebon, Agung Kemal menyampaikan, dampak yang terjadi pada masyarakat akibat belum berakhirnya musim kemarau ialah kekeringan dan kekurangan air bersih di sebagian wilayah Kota Cirebon khususnyadi Cadas Ngampar, Kelurahan Argasunya, Kecamatan Harjamukti.

Terkait hal itu, menurutnya, Pemerintah Kota Cirebon berencana membuat tadah air hujan di wilayah Argasunya.“Kami juga akan memanfaatkan bekas air wudlu di beberapa masjid yang kemudian ditampung. Air-air ini bisa dimanfaatkanuntuk menyiram tanaman. Kami juga akan uji ke laboratorium, apakah layak untuk diminum atau tidak,” ukata Agung.

Mengantisipasi dampak kekeringan agar tidak berdampak luas, pihaknya juga menyiapkan sejumlah langkah.“Kami juga akan membuat kampanye hemat untuk menggunakan air, kampanye ini agar bisa semua masyarakat bisa meminimalisir penggunaan air yang banyak. Selain itu, rencananya kami juga akan membuat sanitasi di beberapa kelurahan di Kota Cirebon,” katanya.

Senada, Kepala Bidang SPP Bappeda Kabupaten Cirebon, Dangi mengatakan, pola yang tidak dilakukan masyarakat Cirebon, sat ini adalah pendekatan Agama. Padahal, peran agama ini penting, agar musim kemarau bisa berakhir. Ia pun menyarakan adanya pelaksanaan Salat Istisqa yang dilakukan secara serempak di semua desa atau kecamatan di Kabupaten Cirebon.

“Kami sepakat adanya pemanfaatan air bekas air wudhu, karena ini sangat potensial, baik digunakan untuk menyiram tanaman atau lainnya,” kata Dangi.

Ia pun mengusulkan perlunya pembuatan embung di tempat-tempat yang saat musim hujan terjadi banjir sementara saat kemarau sering kekeringan.

“Meski biaya membuat embung mahal, namun dampak kekeringan seperti gagal panen justru akan lebih mahal, karena selain harta juga menyangkut mental masyarakat,” ujar Dangi.

Sementara Ketua HKTI Kabupaten Cirebon, Tasrip Abu Bakar mengatakan, di Kabupaten Cirebon sudah sejak bulan Mei hujan tidak turun. Kekeringan yang melanda Kabupaten Cirebon juga menyebabkan kerugian yang banyak, karena ribuan hektare sawah mengalami puso.

Menurut Tasrip, selama ini hanya 20 persen saja air sungai yang dipergunakan, selebihnya dibuang kelaut. Ia pun mengusulkan agar dibuat waduk pantai seperti di negara Singapura dan Belanda, agar 80 persen air sungai bisa dimanfaatkan untuk kepentingan manusia.

“Karena hal ini bisa dimanfaatkan kembali pada musim kemarau, bukan hanya hulu saja yang dibuat, seperti waduk, tetapi hilirnya pun harus kita buat, agar air tersebut tidak terbuang dengan sia-sia,” katanya. (WIN)

Loading Komentar....
loading...