fajarnews

Dampak Banjir, Hasil Panen Dipastikan Turun

Redaksi : Rosyidi | Selasa, 24 Maret 2015 | 19:19 WIB

beritadaerah.co.id
Ilustrasi Panen

Fajarnews.com, CIREBON- Pascabanjir yang merendan areal pertanian di beberapa wilayah Kabupaten Cirebon, dipastikan akan menyebabkan penurunan hasil poduksi pertanian khususnya padi.

Hal itu diakui Kepala Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksanaan Penyuluhan Pertanian perkebunan dan Kehutanann (BKP5K) Kabupaten Cirebon, Sukma Nugraha, terkait dampak banjir yang melanda sejumlah kawasan Kabupaten Cirebon, belum lama ini.

Menurut pria yang akrab disapa Agas ini, penurunan itu tidak signifikan karena di saat air merendam lahan pertanian, padi di wilayah tersebut sudah tinggi.

Sehingga air tidak sampai merendan bulir padi, dan yang banyak terendam air hanya batang padi.

"Banjir yang melanda di beberapa wilayah saat itu akan ada dampak pengurangan hasil padi, tapi tidak begitu besar karena  banjir itu hanya numpang lewat saja," kata Agas di ruang kerjanya, Senin (23/3).

Dikatakannya, untuk wilayah utara tidak ada banjir seperti Kecamatan Gegesik, Kapetakan dan Gunungjati, terkecuali di wilayah timur Kabupaten Cirebon seperti Losari dan sekitarnya.

Menurutnya, di wilayah Losari sedikitnya 800 hektare areal pertanian terendam air, sedangkan untuk di Gegesik, Kapetakan dan Gunungjati air hanya numpang lewat dan tidak menggenang.

Menurut Agas, jika hanya tiga hari terndam, dampaknya tidak begitu berpengaruh ke tanaman padi. Kalaupun ada penurunan hasil padi, menurut dia, hal itu karena ada sebagian tanaman padi yang roboh.

Ia pun memastikan masa panen di Kabupaten Cirebon, akan dimulai akhir bulan ini.

"Yang harus dipikirkan bersama adalah bagaimana irigasi yang baik, apalagi saat ini Bendungan Jati Gede akan jadi dan akan mengairi sawah di Kabupaten Cirebon," ujarnya.

Terkait hal itu, Agas mengatakan, BKP5K secara rutin melakukan penyuluhan kepada para petani, baik sebelum banjir maupun pascabanjir.

Menurut Agas, permasalahan banjir yang selama ini kerap terjadi, penyebabnya adalah infrastuktur yang belum baik, sehingga di saat hujan akan  banjir, di saat  kemarau ada kekeringan dan yang terakhir  munculnya hama  tikus.

"Untuk mengatasi itu kami telah melakukan pemetaan dan kajian teknis dengan beberapa OPD lainnya," katanya. (SHN)

 

Loading Komentar....
loading...