fajarnews

Investasi Asing untuk Penangkapan Ikan Ditutup

Redaksi : Iwan Surya Permana | Selasa, 24 Maret 2015 | 08:15 WIB

Ilustrasi
-

 

Fajarnews.com, INDRAMAYU- Pintu masuk investasi asing di bidang usaha penangkapan ikan di Indonesia ditutup. Demikian dikatakan Anggota Komisi IV DPR RI, Ono Surono kepada fajarnews.com, Senin (23/3). Ono pun meminta agar nelayan mendukung kebijakan dari Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti tersebut. “Kebijakan ini harus didukung oleh seluruh nelayan Indonesia,’’ katanya.

Ketua DPD Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Jabar itu menyatakan, kebijakan tersebut telah disampaikan Menteri Susi dalam rapat kerja dengan Komisi IV DPR RI beberapa waktu lalu. Dalam kesempatan tersebut, menteri juga menyatakan hanya akan mengizinkan investasi asing di bidang pengolahan ikan.

Ono menilai, kebijakan penutupan investasi asing dalam penangkapan ikan serta membuka investasi di sektor pengolahan ikan sangat menguntungkan nelayan Indonesia. Pasalnya, ikan hasil tangkapan nelayan bisa terserap secara maksimal. Menurutnya, hal tersebut juga akan mampu menghidupkan industri perikanan tangkap nasional.

“Saat Malaysia, Thailand, Filipina dan Vietnam kekurangan stok bahan baku ikan karena mereka tidak bisa mencuri ikan di laut Indonesia lagi, maka mereka harus membangun industri pengolahan ikan di Indonesia, yang bahan bakunya dari nelayan Indonesia,” tegasnya.

Diungkapkapkanya, dengan adanya industri pengolahan ikan yang menyerap banyak bahan baku ikan dari nelayan, maka akan membuat harga ikan di tingkat nelayan menjadi terjaga. Selama ini, masalah utama yang dihadapi nelayan adalah pasar, akibat masih banyaknya tempat pelelangan ikan (TPI) yang tidak berjalan.

Menurut Ono, akibat ketiadaan TPI, ikan hasil tangkapan nelayan dibeli oleh tengkulak, dengan besaran harga ikan yang dimainkan tengkulak. Namun bila industri pengolahan ikan berdiri di sentra nelayan, maka penyerapan ikan hasil tangkapan nelayan menjadi maksimal dengan harga yang stabil. “Dengan harga ikan yang terjaga, maka kehidupan nelayan akan semakin naik,” tutur Ono.

Dia menambahkan, untuk tahap awal membangun investasi pengolahan ikan, maka harus ada inventarisasi sentra nelayan terlebih dulu. Pasalnya, jika ada investor yang hendak membangun industri pengolahan ikan, maka bisa dipastikan akan dilakukan di sentra nelayan. Pasalnya, syarat berlangsungnya industri tersebut harus memiliki stok ikan yang berlimpah.

Khusus untuk Kabupaten Indramayu, sebagai penghasilan ikan terbesar di Jabar, Ono berharap, Bupati Indramayu bisa memanfaatkan peluang tersebut. Dia menyatakan, bupati harus melakukan komunikasi dengan pemerintah pusat agar mengarahkan investor industri pengolahan ikan ke Kabupaten Indramayu.

Seorang nelayan Indramayu, Warnadi, berharap kebijakan penutupan investasi asing di bidang penangkapan ikan dan pembukaan investasi di bidang pengolahan ikan benar-benar terealisasi. “Jangan ada lagi kapal asing yang mencuri ikan dari laut Indonesia. Biarkan nelayan Indonesia menikmati kekayaan laut Indonesia,” singkatnya. (AGS)

 

 

Loading Komentar....
loading...